Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter
Seminggu sebelum pergantian tahun, Tulisan ini hampir dibuat namun karena kesibukan sempat tertunda.



Siang ini, mungkin aku terlambat menuliskan lembaran 2025 yang telah berlalu. Tapi blog tidak mengenal kata terlambat—ia hanya tahu satu tugas: merekam. Menyimpan jejak sebelum semuanya perlahan memudar dari ingatan.

Januari, awal tahun. Akhirnya aku pertama kali memijak kaki di lantai pesta dansa. Benar-benar kaget sekaligus kagum. Lampu-lampu kelap kelip, musik keras dan tarian yang semakin malam semakin panas. Aku tidak akan melupakan itu. Aku merasa lepas, sebagian jiwaku yang tak pernah kukenal sebelumnya keluar, aku bisa dengan leluasa menari bebas, dengan pengaruh alkohol yang mulai menguasai tubuh. 

Tapi aku tetap pada batasan, karena ada nilai diri dan prinsip yang harus dijaga. Di titik itu aku menyadari, kebebasan tidak selalu berarti kehilangan kendali. Justru aku belajar bahwa mengenal sisi gelap, liar, dan impulsif dalam diri bukan untuk dituruti sepenuhnya, melainkan untuk dipahami.


Kemudian pada momen setelah fase euforia, ada masa dimana keluarga mulai mengalami tantangannya, yang mengakibatkan aku harus tinggal sendiri di ibukota. Tak tau hingga sampai kapan aku harus hidup sendiri, berharap semua kembali seperti dulu lagi. Tapi tidak mengapa; karena dunia memang tak harus berada pada genggaman kita. 

Adaptasi tinggal sendiri mulai banyak tantangan. Aku kembali mengalami perasaan sepi, dimana sebelumnya tidak pernah aku rasakan.  Sebagian besar tahun 2025 kuhabiskan dengan menjomblo. Tanpa kekasih, hanya pria-pria yang datang silih berganti, singgah sebentar, lalu pergi tanpa pernah benar-benar menetap.

Aku menyibukkan diri dengan magang di suatu departemen spesialisasi yang sedang kutuju. Di sana, aku belajar bahwa ilmu bukan hanya soal diagnosis dan tata laksana, tetapi tentang kehidupan dan air mata manusia. Empatiku bertumbuh perlahan, dan hatiku semakin tergerak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Aku menyaksikan kasih yang tetap hidup meski telah dilukai, seseorang yang masih mengasihi orang yang menyakitinya. Aku juga bertemu pasien yang berusaha melindungi orang yang dicintainya, bahkan ketika orang tersebut telah melanggar hukum. Di ruang-ruang sunyi itu, aku tersentuh dan kagum: betapa dunia menyimpan begitu banyak keajaiban dalam bentuk manusia dan luka-lukanya.



Salah satu murid saya di kegiatan ASN Mengajar. Di foto ini aku mengajar kelas kecil yaitu berisi sekitar 4-5 orang anak PAUD. Saya mengajarin mereka calistung
Di sini... aku sedang menjadi tim relawan pendamping anak-anak panti ke Taman Mini. 
Padahal aku aja teraekhir kali ke TMII itu pas SMP wkwkwkwk.
Makin bagus lo TMII nya

Pada pertengahan tahun juga, aku banyak mengikuti kegiatan volunteer. Aku mengikuti kegiatan relawan ini untuk bisa menumbuhkan kepekaan sosial dan empati, selain mengisi portofolio kegiatan informal. Dan aku ternyata menikmatinya. Mengajari anak-anak kecil usia PAUD hingga SMA dari kelompok marjinal, mulai dari mengajari mata pelajaran sekolah, mengajarkan bermain recorder, bermain musik hingga menjadi pengiring acara penampilan bakat mereka saat 17 agustusan. Aku sangat menikmatinya walau sangat melelahkan. Bayangkan, pernah suatu ketika, dari hari jumat pagi di kantor, lanjut jaga malam part time di Rumah sakit swasta, lalu keesokan paginya nyambung langsung ke tangerang selatan untuk kegiatan volunteer. Sungguh luar biasa wkwwkwkkwwk. 





Di pertengahan agustus, Indonesia berduka. Terjadi kerusuhan yang entah karena apa. Indonesia benar-benar seperti perang. Antara pemerintah dengan rakyatnya. Aku bertugas pada hari itu. Dan yang kulihat sungguh menyedihkan. Darah berceceran dimana-mana. 

Menanjak trimester ketiga tahun 2025, ujian besar dimulai. Pertarungan bak perang bintang. LPDP sungguh menguras tenaga dan pikiran. Aku kalah. Jatuh jauh, ke bagian bumi yang paling sunyi dan gelap. Di sana, putus asa sempat tinggal, dan hingga kini bayangnya masih sesekali mengetuk. Sempat putus asa (sampai sekarang). Tapi aku harus tetap bangkit. Maka aku berdiri perlahan, bukan karena aku sudah kuat, tapi karena di luar sana, kelak, ada jiwa-jiwa yang akan membutuhkan tanganku.

Di hari yang sama, dalam keadaan paling rapuh, aku melakukan sesuatu yang nekat: mengajak tetanggaku (yang diam-diam sudah lama kutaksir) untuk berjalan bersama. Dan entah bagaimana, ia mengiyakan. Hari itu juga. Terima kasih, Dion. Tanpa banyak kata, kau mengobati hatiku yang hancur di hari itu.

Kejadian selanjutnya yang harus direkam di blog ini. Adik bungsuku melangsungkan pernikahannya. Aku sedih sekaligus bersyukur. Kami juga mengadakan pesta di kalimantan barat. Pertama kalinya aku menapak kaki ke pulau borneo. Ternyata makanan di Pontianak enak-enak wkwkwkwk 

Bersama dua penari Dayak di pontianak saat acara pernikahan adik tersayang

Akhir tahun, aku mengadakan perpisahan di dua tempat sekaligus. Yaitu di Rumah Sakit tempatku bertugas dan perpisahan karena Komandanku tersayang pensiun. Aku tidak tau apa akan ada sosok atasan yang bisa menerimaku seperti dia. aku hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi. Dia selalu membelaku disaat aku tidak layak untuk dibela. 

Ini dia.. komandanku tersayang. 

Dia bisa berusaha memahamiku saat aku mengambil keputusan. mendukungku mengejar mimpi. mendengar curhatanku disaat ibu kandungku sendiri sedang tak dapat memahaminya. 

Lagi perpisahan Bu Ris di Hachi Grill Sunter hehehehe

Untuk semua keberanian yang kamu tularkan,Untuk pembelaan tanpa banyak kata, untuk ruang mimpi yang kau buka lebar. Terima kasih, Komandan. Selamat melanjutkan perjalanan.

Suatu rumah sakit di daerah rawamangun, Satu setengah tahun di IGD bukan waktu yang singkat. Di sini aku belajar bertahan dalam ritme cepat, mengambil keputusan dalam keterbatasan, dan tetap manusiawi di tengah situasi paling genting. Banyak kejadian besar yang kembali saya pelajari ulang. Dari menerima pasien code blue sampai persalinan normal! Karena ilmu kedokteran memang seluas itu. Bersyukur atas orang-orang di dalamnya, yang memaklumi ketidaksempurnaan saya sebagai dokter jaga. THANKYOU TEAM. 


Ini dia.. tim IGD RS tercinta
Termasuk jahitan yang susah dan rumit.


Akhir tahun 2025, hati kembali bergejolak. Aku jatuh cinta dengan hebatnya, pada seseorang yang berbeda agama.  Dan entah mengapa, bagi manusia yang sedang dimabuk cinta, perbedaan itu tak lagi terasa sebagai persoalan. Seorang workaholic. Dimana dunia dia hanyalah pekerjaannya. Ada magnet yang terasa sejak awal, liar tapi dalam. Ia kusebut dalam doa, meski hingga kini waktu belum juga berkenan mempertemukan kami. Padahal, rumahnya adalah alasan paling sederhana mengapa aku ingin selalu menghabiskan long weekend di sana.

2025 adalah tahun gagal dan perpisahan. Tahun jatuh cinta dan patah hati.
Ada ciuman liar di dekat panggung DJ, ada alkohol yang menyalakan keberanian, ada diri yang belajar jujur pada rasa, meski tak selalu berakhir indah. Ini juga tahun perpisahan, karena rupanya kita memang harus belajar bertumbuh justru saat berada di zona paling tidak nyaman.
Terima kasih, 2025. Kau tidak mudah, tapi luar biasa, karena darimu aku belajar mengenal diri dengan lebih utuh.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • 5 Rekomendasi LOZENGES Penangkal Radang Tenggorokan yang Hadir di Sekitar Kamu
    Kamu adalah orang yang langganan radang tenggorokan? Punya sinusitis atau rhinitis maka kelanjutannya menjadi sering radang tenggorokan? Kal...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...

Categories

  • #dearjournal 13
  • #Kesehatan 7
  • #poem 11
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Lifestyle 4
  • Partnership 5
  • Review 12
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...
  • Palung Mariana
    Aku gelap Aku pekat Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi Aku tidak terselami ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang s...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • Tahun 2023, Kelinci Air yang Sejuk
    Hiruk pikuk bunyi terompet dari kejauhan, kembang-kembang api yang menunggu memulai semburatnya di udara. Ini tentang malam perg...
  • Tiga puluh dua
    -4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung- Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu...
  • 2025, tahun penuh pertumpahan darah (?)
     Waktu menunjukkan hampir pukul 5 dini hari. Subuh. Hening. Tapi tidak dirumahku, alunan musik dj berkumandang kencang. Beberapa hari ini sa...
  • Topokki ALL YOU CAN EAT [Review] di DOOKKI Korean Food Buffet
    Topokki ALL YOU CAN EAT [Review] di DOOKKI -   Anyeong chinguu! Pada suatu waktu, aku diajakin temen kantor untuk mencoba resto...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes