Seminggu sebelum pergantian tahun, Tulisan ini hampir dibuat namun karena kesibukan sempat tertunda.
Siang ini, mungkin aku terlambat menuliskan lembaran 2025 yang telah berlalu. Tapi blog tidak mengenal kata terlambat—ia hanya tahu satu tugas: merekam. Menyimpan jejak sebelum semuanya perlahan memudar dari ingatan.
Januari, awal tahun. Akhirnya aku pertama kali memijak kaki di lantai pesta dansa. Benar-benar kaget sekaligus kagum. Lampu-lampu kelap kelip, musik keras dan tarian yang semakin malam semakin panas. Aku tidak akan melupakan itu. Aku merasa lepas, sebagian jiwaku yang tak pernah kukenal sebelumnya keluar, aku bisa dengan leluasa menari bebas, dengan pengaruh alkohol yang mulai menguasai tubuh.
Tapi aku tetap pada batasan, karena ada nilai diri dan prinsip yang harus dijaga. Di titik itu aku menyadari, kebebasan tidak selalu berarti kehilangan kendali. Justru aku belajar bahwa mengenal sisi gelap, liar, dan impulsif dalam diri bukan untuk dituruti sepenuhnya, melainkan untuk dipahami.
Kemudian pada momen setelah fase euforia, ada masa dimana keluarga mulai mengalami tantangannya, yang mengakibatkan aku harus tinggal sendiri di ibukota. Tak tau hingga sampai kapan aku harus hidup sendiri, berharap semua kembali seperti dulu lagi. Tapi tidak mengapa; karena dunia memang tak harus berada pada genggaman kita.
Adaptasi tinggal sendiri mulai banyak tantangan. Aku kembali mengalami perasaan sepi, dimana sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Sebagian besar tahun 2025 kuhabiskan dengan menjomblo. Tanpa kekasih, hanya pria-pria yang datang silih berganti, singgah sebentar, lalu pergi tanpa pernah benar-benar menetap.
Aku menyibukkan diri dengan magang di suatu departemen spesialisasi yang sedang kutuju. Di sana, aku belajar bahwa ilmu bukan hanya soal diagnosis dan tata laksana, tetapi tentang kehidupan dan air mata manusia. Empatiku bertumbuh perlahan, dan hatiku semakin tergerak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Aku menyaksikan kasih yang tetap hidup meski telah dilukai, seseorang yang masih mengasihi orang yang menyakitinya. Aku juga bertemu pasien yang berusaha melindungi orang yang dicintainya, bahkan ketika orang tersebut telah melanggar hukum. Di ruang-ruang sunyi itu, aku tersentuh dan kagum: betapa dunia menyimpan begitu banyak keajaiban dalam bentuk manusia dan luka-lukanya.
 |
| Salah satu murid saya di kegiatan ASN Mengajar. Di foto ini aku mengajar kelas kecil yaitu berisi sekitar 4-5 orang anak PAUD. Saya mengajarin mereka calistung |
 |
Di sini... aku sedang menjadi tim relawan pendamping anak-anak panti ke Taman Mini. Padahal aku aja teraekhir kali ke TMII itu pas SMP wkwkwkwk. Makin bagus lo TMII nya |
Pada pertengahan tahun juga, aku banyak mengikuti kegiatan volunteer. Aku mengikuti kegiatan relawan ini untuk bisa menumbuhkan kepekaan sosial dan empati, selain mengisi portofolio kegiatan informal. Dan aku ternyata menikmatinya. Mengajari anak-anak kecil usia PAUD hingga SMA dari kelompok marjinal, mulai dari mengajari mata pelajaran sekolah, mengajarkan bermain recorder, bermain musik hingga menjadi pengiring acara penampilan bakat mereka saat 17 agustusan. Aku sangat menikmatinya walau sangat melelahkan. Bayangkan, pernah suatu ketika, dari hari jumat pagi di kantor, lanjut jaga malam part time di Rumah sakit swasta, lalu keesokan paginya nyambung langsung ke tangerang selatan untuk kegiatan volunteer. Sungguh luar biasa wkwwkwkkwwk.

Di pertengahan agustus, Indonesia berduka. Terjadi kerusuhan yang entah karena apa. Indonesia benar-benar seperti perang. Antara pemerintah dengan rakyatnya. Aku bertugas pada hari itu. Dan yang kulihat sungguh menyedihkan. Darah berceceran dimana-mana.
Menanjak trimester ketiga tahun 2025, ujian besar dimulai. Pertarungan bak perang bintang. LPDP sungguh menguras tenaga dan pikiran. Aku kalah. Jatuh jauh, ke bagian bumi yang paling sunyi dan gelap. Di sana, putus asa sempat tinggal, dan hingga kini bayangnya masih sesekali mengetuk. Sempat putus asa (sampai sekarang). Tapi aku harus tetap bangkit. Maka aku berdiri perlahan, bukan karena aku sudah kuat, tapi karena di luar sana, kelak, ada jiwa-jiwa yang akan membutuhkan tanganku.
Di hari yang sama, dalam keadaan paling rapuh, aku melakukan sesuatu yang nekat: mengajak tetanggaku (yang diam-diam sudah lama kutaksir) untuk berjalan bersama. Dan entah bagaimana, ia mengiyakan. Hari itu juga. Terima kasih, Dion. Tanpa banyak kata, kau mengobati hatiku yang hancur di hari itu.
Kejadian selanjutnya yang harus direkam di blog ini. Adik bungsuku melangsungkan pernikahannya. Aku sedih sekaligus bersyukur. Kami juga mengadakan pesta di kalimantan barat. Pertama kalinya aku menapak kaki ke pulau borneo. Ternyata makanan di Pontianak enak-enak wkwkwkwk
 |
| Bersama dua penari Dayak di pontianak saat acara pernikahan adik tersayang |
Akhir tahun, aku mengadakan perpisahan di dua tempat sekaligus. Yaitu di Rumah Sakit tempatku bertugas dan perpisahan karena Komandanku tersayang pensiun. Aku tidak tau apa akan ada sosok atasan yang bisa menerimaku seperti dia. aku hanya bisa pasrah apapun yang akan terjadi. Dia selalu membelaku disaat aku tidak layak untuk dibela.
 |
| Ini dia.. komandanku tersayang. |
Dia bisa berusaha memahamiku saat aku mengambil keputusan. mendukungku mengejar mimpi. mendengar curhatanku disaat ibu kandungku sendiri sedang tak dapat memahaminya.
 |
| Lagi perpisahan Bu Ris di Hachi Grill Sunter hehehehe |
Untuk semua keberanian yang kamu tularkan,Untuk pembelaan tanpa banyak kata, untuk ruang mimpi yang kau buka lebar. Terima kasih, Komandan. Selamat melanjutkan perjalanan.
Suatu rumah sakit di daerah rawamangun, Satu setengah tahun di IGD bukan waktu yang singkat. Di sini aku belajar bertahan dalam ritme cepat, mengambil keputusan dalam keterbatasan, dan tetap manusiawi di tengah situasi paling genting. Banyak kejadian besar yang kembali saya pelajari ulang. Dari menerima pasien code blue sampai persalinan normal! Karena ilmu kedokteran memang seluas itu. Bersyukur atas orang-orang di dalamnya, yang memaklumi ketidaksempurnaan saya sebagai dokter jaga. THANKYOU TEAM.
 |
| Ini dia.. tim IGD RS tercinta |
 |
| Termasuk jahitan yang susah dan rumit. |
Akhir tahun 2025, hati kembali bergejolak. Aku jatuh cinta dengan hebatnya, pada seseorang yang berbeda agama. Dan entah mengapa, bagi manusia yang sedang dimabuk cinta, perbedaan itu tak lagi terasa sebagai persoalan. Seorang workaholic. Dimana dunia dia hanyalah pekerjaannya. Ada magnet yang terasa sejak awal, liar tapi dalam. Ia kusebut dalam doa, meski hingga kini waktu belum juga berkenan mempertemukan kami. Padahal, rumahnya adalah alasan paling sederhana mengapa aku ingin selalu menghabiskan long weekend di sana.
2025 adalah tahun gagal dan perpisahan. Tahun jatuh cinta dan patah hati.
Ada ciuman liar di dekat panggung DJ, ada alkohol yang menyalakan keberanian, ada diri yang belajar jujur pada rasa, meski tak selalu berakhir indah. Ini juga tahun perpisahan, karena rupanya kita memang harus belajar bertumbuh justru saat berada di zona paling tidak nyaman.
Terima kasih, 2025. Kau tidak mudah, tapi luar biasa, karena darimu aku belajar mengenal diri dengan lebih utuh.
