Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab konsulan baik tatap muka maupun telemedicine, sesapan kopi bercampur susu hangat. Semua dilakukan layaknya rutinitas pagi hari yang biasa-biasa saja.
|
Dokumentasi Pribadi |
Sampai kemudian, sebuah kalimat bersenandung.
"Dok, besok di kantor kita mau ada donor darah yaaa..", perkataan rekan saya di kantor langsung menyematkan rasa campur aduk dalam hati saya. Walaupun saya berprofesi sebagai tenaga kesehatan, tapi saya belum pernah berpartisipasi langsung di dalam kegiatan kemanusiaan donor darah. Apalagi menjadi pendonornya. Hehehehe.
Baiqlahh saya akan membuat pengakuan.
Jadi dulu di rumah sakit dimana saya melaksanakan pendidikan koas di kota Medan, ada pernah suatu waktu dimana PMI (Palang Merah Indonesia) mengadakan penyelenggaraan kegiatan donor darah di rumah sakit tersebut. Tapi dasar saya waktu itu masih dokter muda yang penakut. Melihat jarum, pisau scalpel, dan menyuntik mah biasa bagi saya, tapi tak pernah biasa jika saya di posisi yang menjadi objek. Wkwkwkwkwk (Baca : Menjadi yang disuntik; Menjadi yang ditusuk).
Pemberitahuan pun semakin berkumandang, bahwasanya semua personel di RSUP H.Adam Malik Medan (tempat saya pendidikan) harus bersedia menyumbangkan darahnya jika lolos melewati proses screening dan jika tidak ada hal-hal yang dikontraindikasikan untuk mendonorkan darah.
Tahu kah kalian apa yang saya lakukan setelah mendengar kabar itu? Kabur. Iya. Saya kabur ke rumah saya yang pada waktu itu memang berada tepat di depan RS. Saya pura-pura lagi 'dapet' sehingga saya memang tidak diperkenankan untuk mendonorkan darah.
Selang beberapa tahun kemudian, pemberitahuan itu bersenandung kembali. Kemarin, oleh rekan kerja saya saat ini. Setelah semalaman berpikir, "Ikut ga yaaa, ikut ga ya.. ikutan ga yaa..", akhirnya saya sampai pada keputusan oke, siapa takut. Kali ini, saya memutuskan untuk berpartisipasi menjadi pendonor. Perdana loh! Yeyyy! ❤☺
*
Jadi, ada beberapa syarat yang perlu kamu ketahui sebelum kamu memutuskan untuk mendonorkan darah kamu.
- Dalam kondisi sehat.
- Tidak dalam keadaan sakit tenggorokan, batuk, pilek, ataupun diare dalam kurun 1 minggu sebelum pelaksanaan donor.
- Tidak mengalami demam dalam waktu 4 minggu sebelum pelaksanaan donor.
- Tidak mengonsumsi obat-obatan, suplemen herbal, dalam 3 hari sebelum pelaksanaan donor. Tidak mengonsumsi antibiotik dalam 1 minggu sebelum pelaksanaan donor.
- Berat badan minimal pendonor ialah 45 kg.
- Kadar Hemoglobin pada pendonor pria adalah 13 g/dl dan pada pendonor wanita ialah 12,5 g/dl.
Setelah kamu yakin bahwa persyaratan sepertinya kamu penuhi, mari kita lanjut ke langkah-langkah selanjutnya ya. Berikut saya rangkum empat langkah tahapan proses donor darah.
Pada saat registrasi, saya menerima dua lembar formulir untuk diisi. Lembar pertama yang bewarna merah jambu untuk mengisi data pribadi diri dan riwayat kesehatan. Dan lembar kedua adalah beberapa butir pertanyaan mengenai keterkaitan kamu dengan pandemi Covid-19.
|
Tampak sekilas lembaran Informed Consent yang harus diisi calon pendonor |
Diisi secara jujur ya. Kejujuran kamu berkaitan dengan keselamatan orang lain. Jangan sampai kamu sedang sakit tapi kamu malah memberikan darahmu ke orang lain.
|
Suasana Pemeriksaan Fisik. Calon pendonor akan berpindah dari satu meja posko yang satu ke yang berikutnya. Masing-masing petugas menganalisis calon pendonor sesuai dengan prosedurnya dan menilai apakah si calon pendonor layak atau tidak. |
Di tahap ini mereka akan mewawancarai calon pendonor secara langsung. Pertanyaan mengenai pola hidup, penyakit bawaan, obat-obatan yang kita konsumsi seminggu terakhir dan lain sebagainya kiranya kita jawab dengan jujur. Kejujuran kita juga menjadi pemberian yang berharga bagi mereka yang memerlukan.
|
Dokumentasi Pribadi |
Saat diarahkan ke bilik bagian donasi darah, saya masuk ke dalam ruang berukuran 6 meter x 6 meter. Disitu ada dua tempat tidur dengan peralatan selang pengalir dan kantong penyimpan darah berada diantara kedua tempat tidur.
Dengan ramah petugas PMI nya menyuruh saya berbaring dengan rileks. Dan beliau mulai mengamati pembuluh darah saya di bagian brachialis saya di lengan sebelah kiri. Namun setelah dibendung dengan memakai tensimeter, pembuluh darah saya masih susah terlihat dikarenakan ukuran pembuluh darah saya terlalu kecil.
|
Ini aku sendiri yang lagi selfie pas donor darah wkwkwk. Please deh jangan ditiru. Dokumentasi Pribadi. |
|
Ini lengan kananku ya. Cuma maybe karena effek dari mirror lensa selfie, foto ini menjadi seperti lengan kiri. |
Sang petugas pun akhirnya memutuskan untuk memakai lengan kananku untuk dijadikan tempat pendonoran darahnya.
Selama durasi pengambilan darah, petugas menyuruh saya memegang sejenis bola karet kecil (seukuran bola tenis) untuk saya cengkeram. Hal ini ditujukan untuk menjaga aliran darah saya tetap pada kecepatan optimal saat dialirkan menuju kantong penyimpanan. Durasi pengambilan darah saya berlangsung sekitar kurang lebih 10 menit. Jujur saya nervous banget wkwkwkwk.
Setelah pengambilan darah selesai, Petugas menyuruh lengan kanan saya yang diambil darahnya agar diangkat ke atas sampai telapak tangan melewati kepala selama beberapa menit. Hal ini ditujukan untuk mempercepat pembekuan darah sehingga darahnya berhenti mengalir ke luar.
|
Dokumentasi Pribadi |
|
Dokumentasi Pribadi |
Lalu, saya juga mendapatkan bingkisan berisi snack, vitamin, dan susu dari PMI-nya. Hehehehe. Tak peduli umur berapapun, rasanya kalau dikasi bingkisan snack itu bawaannya tetap happy banget ya ga sih (hayo ngaku wkwk).
|
Kartu donor darah. Dokumentasi Pribadi. |
Dan ini juga yang terpenting nih. Kartu donor darah! Kalian yang sudah melakukan kegiatan donor darah akan mendapatkan kartu ini. Hal ini juga bisa menjadi dokumentasi buat kalian sehingga kalian tahu waktu yang tepat untuk bisa dapat kembali melakukan donor darah lagi.
NB: Donor darah hanya bisa dilakukan selang 3 bulan setelah pelaksanaan donor darah sebelumnya ya.
Lalu, tahukah kamu. Kegiatan donor darah ternyata memiliki manfaat buat tubuh kita sendiri loh. Jangan salah.
Jadi dengan darah kamu diambil dari tubuh kamu, tubuh akan merespon dengan membentuk ulang sel-sel darahnya. Sehingga pada tubuh kamu akan mengalir sel-sel darah yang baru. Ini tentunya akan membantu menjaga kebugaran tubuh kita sendiri.
Darah kita, terbentuk dari zat besi. Nah zat besi yang berlebihan di dalam tubuh bisa menjadi sesuatu yang berbahaya. Jadi, jika kamu mendonorkan darah kamu, zat-zat besi yang mungkin berlebihan di tubuh kamu bisa dapat dikurangi sehingga volumenya di tubuh kamu menjadi optimal.
Kemudian, kantong-kantong darah hasil dari kegiatan donor darah akan melewati belasan tahap uji saring sampai akhirnya PMI memutuskan bahwa darah yang digunakan adalah aman. Dan untuk para pendonor, jika PMI menemukan suatu marker penyakit di darah pendonor, mereka akan menghubungi pendonor untuk segera memeriksakan lebih lanjut mengenai penyakitnya. Nah, jadi buat para pendonor ini bisa sekalian screening kesehatan gratis loh.
|
Here we are.. This is my team! Setelah donor darah, mari kita makan sate daging dulu yaah buat bekal tubuh memproduksi darah lagi dalam waktu 48 jam ke depan.. Hihihi. Sungguh pengalaman berharga banget. |
Nah, jika kalian sudah pernah pengalaman mendonor darah atau mau menambahkan lagi mengenai penjelasan tentang donor darah, bisa dishare di kolom komentar di bawah ini ya!
Setetes darah anda, adalah nyawa buat mereka. Karena hidup, bukan hanya tentang kamu. #yukdonordarah
Referensi
Health Sciences Authority. Diakses pada 2020. Can I donate blood?
Santos-Longhurst, A. Healthline (2019). The Benefits of Donating Blood.
World Health Organization. World Blood Donor Day.