Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter
Sumber gambar: google

Halo. Aku disini adalah netral. Aku tidak berada di kubu mana pun dalam perdebatan yang polarisatif ini. Hanya opini bebas yang kutuangkan dalam ruang blog. Kira-kira sejak awal bulan juli tahun ini, pimpinan negeri ini resmi mendeklarasikan bahwa LGBT ditetapkan sebagai ancaman nonmiliter. Sejak saat itu, entah mengapa, aku merasa semakin sering melihat berita tentang persekusi dan tindakan yang diklaim sebagai upaya "membasmi" LGBT di Indonesia.

Hal tersebut membuatku bertanya-tanya. Mengapa isu ini selalu memancing reaksi yang begitu kuat?

Jika ditarik ke awal, mengapa ada LGBT?

Dari berbagai literatur yang pernah kubaca, tampaknya belum ada satu jawaban tunggal yang dapat menjelaskan secara pasti mengapa seseorang memiliki orientasi seksual atau identitas gender tertentu. Ada yang mengaitkannya dengan faktor biologis, genetik, hormonal, psikologis, lingkungan, hingga kombinasi berbagai faktor tersebut. Sampai hari ini, diskusi ilmiah mengenai hal tersebut masih terus berkembang.

Namun, menurutku, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah "mengapa mereka ada?", melainkan "mengapa keberadaan mereka selalu menjadi perdebatan?"

Di Indonesia, persoalan LGBT tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan agama, budaya, norma sosial, hukum, politik, bahkan identitas nasional. Bagi sebagian masyarakat, LGBT dianggap bertentangan dengan nilai yang mereka yakini sejak kecil. Bagi sebagian yang lain, LGBT dipandang sebagai bagian dari keberagaman manusia yang seharusnya tetap mendapatkan perlindungan sebagai warga negara.

Dua sudut pandang tersebut sering kali bertemu bukan dalam ruang dialog, melainkan dalam ruang konflik.

Yang membuatku prihatin adalah ketika diskusi berubah menjadi persekusi. Ketika seseorang tidak lagi dinilai dari perilakunya, melainkan semata-mata dari label yang melekat padanya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekerasan jarang sekali menyelesaikan perbedaan pandangan. Kekerasan justru melahirkan ketakutan, kebencian, dan jurang yang semakin lebar.

Lingkungan ku

Aku adalah seorang wanita biasa. Tak ada yang menonjol, kecuali selera makan ku yang selalu banyak wkwkwk. Aku memiliki seorang teman kuliah yang merupakan bagian dari LGBT, tepatnya seorang gay. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun, tetapi baru pada tahun kelima aku mengenalnya, ia bercerita bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis. Dari situlah aku mulai mendengar banyak cerita yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Salah satu hal yang paling membuatku tertawa adalah keyakinannya bahwa ia bisa membedakan mana laki-laki heteroseksual dan mana yang homoseksual hanya dari sekali tatap. Karena aku memang dari dulu suka nongkrong sama dia sampai larut malam, kami sering menghabiskan waktu di restoran cepat saji yang buka 24 jam. Di tempat-tempat seperti itu, "radarnya" sering bekerja. Ia bisa menunjuk seseorang yang baru masuk ruangan dan berkata dengan yakin, "Kayaknya dia gay." 


Teman keduaku kujumpai saat aku bekerja di pulau dewata. Setelah setahun berteman dia tiba-tiba confess bahwa dia adalah seorang gay. Dia adalah penderita kanker stadium akhir. Badannya kurus setelah sejak usia sekolah dia harus menerima takdir melawan kanker. Kekasihnya yang membuat dia kuat. Temanku yang ini bukan tipikal yang berganti pasangan walau dia Gay. Di tengah perjuangan melawan kanker stadium lanjut, cinta dari orang yang selalu mendampinginya tampak menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya. Ketika aku jatuh sakit cukup berat, ia rela menyempatkan diri mencarikan dan membelikan obat untukku, padahal ia sendiri sedang terburu-buru berangkat kerja.

Teman ketiga yang kukenal adalah yang sampai saat ini menjadi teman kantorku. Setelah bertahun-tahun berteman dengan beberapa orang gay, aku merasa sudah mewarisi sedikit "radar" dari mereka. Tapi ternyata ke teman ku yang satu ini tidak mempan rupanya. AKU GAK NYANGKA TERNYATA DIA JUGA BELOK.

Jadi ceritanya, tahun lalu itu aku habis putus, aku lagi galau berattttt. Untung sahabatku ini lagi ga sibuk, kita pergi lah tuh kan ke bar wkwkwk. Seperti biasa, aku bukan penganut minuman pahit dan strong. Kita pesen cukup cocktail 1 pitcher. Di pertengahan sesi curhat, dia entah mengapa malah admit bahwa dia adalah seorang penyuka sesama jenis. Aku tertegun, muka ku tanpa ekspresi dan berusaha tetap tenang. Aku bahkan sempat berpikir, jangan-jangan aku salah dengar, atau mungkin efek alkohol mulai bekerja lebih cepat dari yang seharusnya...

Dan akhirnya dia bercerita panjang lebar malam itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sudah lama ingin ia sampaikan. Dia tidak memiliki riwayat pelecehan seksual sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa perasaan suka sesama jenis sudah timbul lama sejak dia SMA. 

LGBT di Indonesia

Aku memahami bahwa Indonesia memiliki nilai budaya dan norma sosial yang kuat. Aku juga memahami bahwa banyak orang merasa perlu mempertahankan nilai-nilai tersebut. Namun pada saat yang sama, aku juga percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang perlu dihormati.

Menghormati seseorang tidak selalu berarti menyetujui seluruh pilihan hidupnya. Sebaliknya, ketidaksetujuan juga tidak harus diwujudkan dalam bentuk penghinaan, persekusi, atau penghilangan hak-hak dasarnya sebagai manusia.

Jujur, tidak semua cerita yang kutemui membuatku mengangguk. Salah satu dari yang kukenal yang sangat berbeda. Ia sering berganti pasangan dan tidak percaya bahwa cinta harus selalu berlabuh pada satu orang yang sama. Tak jarang ia membawa kenalan baru yang ditemuinya untuk menghabiskan malam bersama (one night stand). Secara pribadi, aku tidak sejalan dengan gaya hidup seperti itu, terlepas dari orientasi seksualnya. Dia cukup disiplin dalam menjaga kesehatannya. Ia rutin mengonsumsi PrEP sebagai pencegahan HIV dan secara berkala menjalani pemeriksaan infeksi menular seksual. Dari dirinya aku belajar bahwa orientasi seksual dan pilihan gaya hidup adalah dua hal yang berbeda. Sama seperti pada kelompok heteroseksual, ada yang memilih hubungan monogami, ada pula yang tidak.

Kita semua punya hak dan pendapatnya masing-masing. Tapi yang tidak tepat menurutku adalah ketika menggunakan kekerasan untuk memaksakan pendapatnya. Apakah harus menyiksa seseorang yang dianggap menyimpang. Menurutku semua keyakinan tidak ada yang membenarkan kekerasan. Dan semua keyakinan pun tidak akan ada yang membenarkan penyimpangan LGBT. Semua orang punya hak untuk hidup.

Sebagai dokter, aku sempat mencari bagaimana dunia psikiatri memandang LGBT. Dalam DSM modern, homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Artinya, orientasi seksual pada sesama jenis tidak dipandang sebagai penyakit yang harus diobati. Namun di luar ranah medis, isu LGBT tetap menjadi topik yang kompleks karena bersinggungan dengan budaya, agama, hukum, dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Malam sudah hampir selesai dan sebentar lagi sang fajar terbit. Mata masih belum mau memejam. Beberapa saat yang lalu datang telepon dari teman kantor,"Dok.. dokter... pak joko kantin kita meninggal. Nanti tolong editin laporan nya boleh ya dok kalo ada yang salah". Aku memekik kaget. Orang yang selama ini menyambutku saat kaki menapaki kantin, yang selalu bilang "dok.. mau makan apa hayo" Orang tersebut sudah tiada. Kembali ke pangkuan pencipta. 

Hal yang membuatku berpikir lagi, bagaimana saat ini perasaan bu joko. Bagaimana rasanya ketika sedang melepas belahan jiwanya untuk selamanya. Aku mencoba mengingat beberapa hari ke belakang.

Memang akhir-akhir ini Pak Joko terlihat kurang sehat. Wajahnya pucat. Namun aku tak banyak bertanya. Kukira itu hanya raut lelah yang berusaha bertahan di bulan puasa.

Dan kini, penyesalan itu datang pelan-pelan. Seandainya aku lebih peka. Seandainya aku sempat bertanya, “Pak, sehat kan?”

Malam ini sunyi terasa berbeda. Kantin itu besok mungkin akan libur sebentar, namun ia tetap ada. Meja-meja tetap tersusun. Aroma makanan mungkin tetap sama. Tapi satu suara hangat tak lagi menyambutku.

Saya berpikir kapan giliran saya dipanggil Yang Maha Pencipta Langit Bumi. Di luar sana katanya dunia sedang bersiap memasuki perang dunia ketiga. Saya hanya bisa bersyukur saya tak dilahirkan di negara timur tengah. Betapa kasihannya mereka. Langit mereka yang tak selalu biru, kadang kabut oleh sisa asap. Wilayah mereka setiap harinya dihantui suara sirene dan dentuman. Betapa egoisnya para penguasa. 

Besok, Dia, Yang kupuja diam-diam, akan menjalani prosesi sertijab di kantor. Sebuah peralihan. Sebuah bab baru. Dan mungkin, itu juga pertanda bagiku untuk berubah.

Aku ingin berhenti berharap pada hal-hal yang tak lagi menjadi bagianku.
Belajar mengikhlaskan, bukan karena tak peduli
tetapi karena memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan ditakdirkan untuk kita miliki.

Aku ingin mengubah cara mencinta.
Bukan lagi dengan menggenggam,
melainkan dengan mendoakan.

Malam ini aku juga jujur pada diri sendiri.
Aku sering semena-mena pada hidup.
mengikuti keinginan sesaat, membiarkan ego memimpin, merasa waktu selalu panjang dan kesempatan selalu ada.

Padahal tidak.

Kehilangan Pak Joko mengingatkanku bahwa hidup ini tipis sekali batasnya.
Dan prosesi besok mengingatkanku bahwa tidak semua yang hadir akan tinggal.

Maka jika aku harus berubah, biarlah perubahan itu sederhana:
lebih sadar,
lebih lembut,
lebih berbelas kasih.

Bukan hanya pada orang lain,
tapi juga pada diriku sendiri.



Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • 5 Rekomendasi LOZENGES Penangkal Radang Tenggorokan yang Hadir di Sekitar Kamu
    Kamu adalah orang yang langganan radang tenggorokan? Punya sinusitis atau rhinitis maka kelanjutannya menjadi sering radang tenggorokan? Kal...
  • Biskuit Kacang Julie's Peanut Butter Sandwich, Buka Puasa Semakin Praktis
    Sumber Gambar: www.julies.com.my Biskuit Kacang Julie's - Hola! Ketemu lagi di artikel kali ini yang masih seputar BPN Ramadan Challenge...

Categories

  • #dearjournal 15
  • #Kesehatan 9
  • #poem 11
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Journal 2
  • Lifestyle 5
  • Mental Health 2
  • Partnership 5
  • Psikiatri 2
  • Review 13
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Foto saya
Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Juli 2026 (3)
  • Maret 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • 5 Rekomendasi LOZENGES Penangkal Radang Tenggorokan yang Hadir di Sekitar Kamu
    Kamu adalah orang yang langganan radang tenggorokan? Punya sinusitis atau rhinitis maka kelanjutannya menjadi sering radang tenggorokan? Kal...
  • SCARLETT BODYCARE, Bekal Pilihan Selama Menjadi Garda Terdepan - JOURNAL
    Halo sobat blogger! Akhirnyaaa seperti yang kalian tahu saya sudah menempuh istirahat dua minggu dahulu sebelum akhirnya diizinkan pulang da...
  • Biskuit Kacang Julie's Peanut Butter Sandwich, Buka Puasa Semakin Praktis
    Sumber Gambar: www.julies.com.my Biskuit Kacang Julie's - Hola! Ketemu lagi di artikel kali ini yang masih seputar BPN Ramadan Challenge...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes