Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter

Malam sudah hampir selesai dan sebentar lagi sang fajar terbit. Mata masih belum mau memejam. Beberapa saat yang lalu datang telepon dari teman kantor,"Dok.. dokter... pak joko kantin kita meninggal. Nanti tolong editin laporan nya boleh ya dok kalo ada yang salah". Aku memekik kaget. Orang yang selama ini menyambutku saat kaki menapaki kantin, yang selalu bilang "dok.. mau makan apa hayo" Orang tersebut sudah tiada. Kembali ke pangkuan pencipta. 

Hal yang membuatku berpikir lagi, bagaimana saat ini perasaan bu joko. Bagaimana rasanya ketika sedang melepas belahan jiwanya untuk selamanya. Aku mencoba mengingat beberapa hari ke belakang.

Memang akhir-akhir ini Pak Joko terlihat kurang sehat. Wajahnya pucat. Namun aku tak banyak bertanya. Kukira itu hanya raut lelah yang berusaha bertahan di bulan puasa.

Dan kini, penyesalan itu datang pelan-pelan. Seandainya aku lebih peka. Seandainya aku sempat bertanya, “Pak, sehat kan?”

Malam ini sunyi terasa berbeda. Kantin itu besok mungkin akan libur sebentar, namun ia tetap ada. Meja-meja tetap tersusun. Aroma makanan mungkin tetap sama. Tapi satu suara hangat tak lagi menyambutku.

Saya berpikir kapan giliran saya dipanggil Yang Maha Pencipta Langit Bumi. Di luar sana katanya dunia sedang bersiap memasuki perang dunia ketiga. Saya hanya bisa bersyukur saya tak dilahirkan di negara timur tengah. Betapa kasihannya mereka. Langit mereka yang tak selalu biru, kadang kabut oleh sisa asap. Wilayah mereka setiap harinya dihantui suara sirene dan dentuman. Betapa egoisnya para penguasa. 

Besok, Dia, Yang kupuja diam-diam, akan menjalani prosesi sertijab di kantor. Sebuah peralihan. Sebuah bab baru. Dan mungkin, itu juga pertanda bagiku untuk berubah.

Aku ingin berhenti berharap pada hal-hal yang tak lagi menjadi bagianku.
Belajar mengikhlaskan, bukan karena tak peduli
tetapi karena memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan ditakdirkan untuk kita miliki.

Aku ingin mengubah cara mencinta.
Bukan lagi dengan menggenggam,
melainkan dengan mendoakan.

Malam ini aku juga jujur pada diri sendiri.
Aku sering semena-mena pada hidup.
mengikuti keinginan sesaat, membiarkan ego memimpin, merasa waktu selalu panjang dan kesempatan selalu ada.

Padahal tidak.

Kehilangan Pak Joko mengingatkanku bahwa hidup ini tipis sekali batasnya.
Dan prosesi besok mengingatkanku bahwa tidak semua yang hadir akan tinggal.

Maka jika aku harus berubah, biarlah perubahan itu sederhana:
lebih sadar,
lebih lembut,
lebih berbelas kasih.

Bukan hanya pada orang lain,
tapi juga pada diriku sendiri.



Malam tahun baru kemarin kembang api dilarang diledakkan, bukan bermaksud tak mensyukuri tahun baru yang akan datang serta tahun lama yang akan segera selesai. Melainkan bagaimana kita sedang turut berempati dengan saudara-saudara kita di Sumatera yang sedang berduka. Saat itu aku sedang berada di kantor tercinta.




Disitu aku melihat sosok berbulu putih mungil lewat beberapa meter di depanku, seperti jawaban atas kerinduanku untuk memiliki seekor anjing. Aku belakangan tau, itu punya siapa. Seorang yang tak aku kira. Tapi semua berjalan biasa saja. Sampai malam semakin larut, keberanian itu datang dengan cara yang tak terduga. Alkohol menyalakan sesuatu yang selama ini kupendam rapi: untuk tidak lagi hanya menunggu untuk dapat berbincang. Dan tanpa banyak pertimbangan, aku meneleponmu. Di ujung nada sambung itu, ada jantung yang berdegup lebih keras dari biasanya, antara harap dan takut, antara nekat dan penyesalan keesokan pagi setelah semua efek alkohol menghilang.

Kepada yang kupuja diam-diam, langit selalu cerah karena pesonamu yang tak pernah belajar redup, bahkan ketika senja mencoba mengambil alih.

Dia, Samudra yang Dalam. Tenang di permukaan, tapi menyimpan kedalaman yang sulit ditebak. Aku tau aku tidak bisa sembarangan berenang. Aku takut, kalau-kalau ia masih terikat pada masa lalunya, pada seseorang yang belum benar-benar ia lepaskan, atau mungkin dia hanya sedang menjaga jarak.

Pembicaraan itu perlahan berubah menjadi doa yang kupanjatkan diam-diam. Ada sosok yang kukagumi,penuh kharisma, tenang, dan sulit ditebak. Aku tak pernah benar-benar tahu apa yang ia pikirkan tentangku, dan mungkin memang tak perlu tahu sekarang.

Kepada yang kupuja diam-diam, Aku sangat jarang bertemu denganmu, walau kita satu kantor. Seakan satu kantor tak bisa menyatukan langkah kita. Aku merindukanmu.

Aku hanya berharap, suatu hari, di sela kesibukan dan pikirannya yang dalam, namaku sempat terlintas. Lalu dengan sederhana, ia mengajakku berjalan,tanpa rencana besar, tanpa janji berlebihan. Kurasa, itu saja sudah lebih dari cukup.
Aku bersyukur sepertinya kau memiliki teman-teman yang mendorongmu untuk berkenalan denganku. Tapi entah mengapa itu tak membuatmu cukup untuk bisa melangkah menuju ke sisiku. Aku sedih. Entah apa yang kau pikirkan.
Aku pun sadar aku masih memiliki mimpi untuk kugapai. Tentang bagaimana aku bisa menolong orang lebih banyak lagi, atas jiwa-jiwa yang rapuh. Aku menyayangi para pasienku, jiwa-jiwa mereka sedang sakit, mereka butuh perhatianku. Aku bukan sedang mengabaikan kita. Tapi ini tentang bagaimana nilai-nilai hidup membuatku mengambil keputusan. 

Kepada yang kupuja diam-diam, hatiku berdegup kencang ketika melihatmu dari kejauhan, seperti ombak yang tak pernah benar-benar tenang setiap kali bulan menatapnya.

Lalu baru-baru ini pengumuman yang dari dulu kutakutkan tiba, ada namamu yang dinyatakan pindah ke kantor lain. Hatiku hancur. Air mata tentu saja sudah keluar sepanjang malam.  Malam yang terasa lebih panjang dari biasanya. Tapi, aku kembali mengingat bahwa ada yang hanya dititipkan sebentar, untuk mengajarkan tentang harap, tentang keberanian, dan tentang melepaskan.

Karena seperti yang pernah kau katakan kepada temanmu, dengan tenang dan penuh keyakinan: “Jodoh tak ke mana.”

Kepada yang kupuja diam-diam, kala kita berpapasan aku pasti hilang kata-kata tanpa kenapa, seolah waktu sengaja berhenti sebentar hanya untuk menguji seberapa kuat jantungku bertahan.

Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa kepada Dia yang Mencipta Langit dan Bumi, agar jika memang takdir mengizinkan, kita dipertemukan kembali. Bukan sebagai dua orang yang masih ragu, bukan dalam keadaan setengah siap, melainkan dengan versi diri yang lebih utuh, lebih matang, dan lebih berani.

Kepada yang kupuja diam-diam, ketika aku merindukanmu aku mengunjungi anjingmu, karena lewat anjingmu aku seperti menyentuh bayanganmu, hangatnya berbeda, tapi cukup untuk menenangkan. 

Aku percaya, jika memang kita ditulis dalam satu garis yang sama, maka waktu hanya sedang menata pertemuan itu. Dan tugasku sekarang hanyalah memperbaiki diri. Sementara doa tetap kupanjatkan diam-diam.

Kepada yang kupuja diam-diam, ketika aku merindukanmu aku mengunjungi anjingmu, karena lewat anjingmu aku bisa merasakan sisa-sisa hadirmu, cara ia menoleh, cara ia setia menunggu, seolah ia mewarisi hatimu.









Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • 5 Rekomendasi LOZENGES Penangkal Radang Tenggorokan yang Hadir di Sekitar Kamu
    Kamu adalah orang yang langganan radang tenggorokan? Punya sinusitis atau rhinitis maka kelanjutannya menjadi sering radang tenggorokan? Kal...

Categories

  • #dearjournal 15
  • #Kesehatan 7
  • #poem 12
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Journal 2
  • Lifestyle 4
  • Partnership 5
  • Review 12
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Maret 2026 (1)
  • Februari 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...
  • Palung Mariana
    Aku gelap Aku pekat Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi Aku tidak terselami ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang s...
  • Tahun 2023, Kelinci Air yang Sejuk
    Hiruk pikuk bunyi terompet dari kejauhan, kembang-kembang api yang menunggu memulai semburatnya di udara. Ini tentang malam perg...
  • Tiga puluh dua
    -4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung- Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu...
  • 2025, tahun penuh pertumpahan darah (?)
     Waktu menunjukkan hampir pukul 5 dini hari. Subuh. Hening. Tapi tidak dirumahku, alunan musik dj berkumandang kencang. Beberapa hari ini sa...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes