Dia, Samudra yang Dalam

Malam tahun baru kemarin kembang api dilarang diledakkan, bukan bermaksud tak mensyukuri tahun baru yang akan datang serta tahun lama yang akan segera selesai. Melainkan bagaimana kita sedang turut berempati dengan saudara-saudara kita di Sumatera yang sedang berduka. 




Disitu aku melihat sosok berbulu putih mungil lewat beberapa meter di depanku, seperti jawaban atas kerinduanku untuk memiliki seekor anjing. Aku belakangan tau, itu punya siapa. Seorang yang tak aku kira. Tapi semua berjalan biasa saja. Sampai malam semakin larut, keberanian itu datang dengan cara yang tak terduga. Alkohol menyalakan sesuatu yang selama ini kupendam rapi: untuk tidak lagi hanya menunggu untuk dapat berbincang. Dan tanpa banyak pertimbangan, aku meneleponmu. Di ujung nada sambung itu, ada jantung yang berdegup lebih keras dari biasanya, antara harap dan takut, antara nekat dan penyesalan keesokan pagi setelah semua efek alkohol menghilang.

Kepada yang kupuja diam-diam, langit selalu cerah karena pesonamu yang tak pernah belajar redup, bahkan ketika senja mencoba mengambil alih.

Dia, Samudra yang Dalam. Tenang di permukaan, tapi menyimpan kedalaman yang sulit ditebak. Aku tau aku tidak bisa sembarangan berenang. Aku takut, kalau-kalau ia masih terikat pada masa lalunya, pada seseorang yang belum benar-benar ia lepaskan, atau mungkin dia hanya sedang menjaga jarak.

Pembicaraan itu perlahan berubah menjadi doa yang kupanjatkan diam-diam. Ada sosok yang kukagumi,penuh kharisma, tenang, dan sulit ditebak. Aku tak pernah benar-benar tahu apa yang ia pikirkan tentangku, dan mungkin memang tak perlu tahu sekarang.

Aku hanya berharap, suatu hari, di sela kesibukan dan pikirannya yang dalam, namaku sempat terlintas. Lalu dengan sederhana, ia mengajakku berjalan,tanpa rencana besar, tanpa janji berlebihan. Kurasa, itu saja sudah lebih dari cukup.


Kepada yang kupuja diam-diam, Aku sangat jarang bertemu denganmu, walau kita satu kantor. Seakan satu kantor tak bisa menyatukan langkah kita. Aku merindukanmu.

Aku bersyukur sepertinya kau memiliki teman-teman yang mendorongmu untuk berkenalan denganku. Tapi entah mengapa itu tak membuatmu cukup untuk bisa melangkah menuju ke sisiku. Aku sedih. Entah apa yang kau pikirkan.
Aku pun sadar aku masih memiliki mimpi untuk kugapai. Tentang bagaimana aku bisa menolong orang lebih banyak lagi, atas jiwa-jiwa yang rapuh. Aku menyayangi para pasienku, jiwa-jiwa mereka sedang sakit, mereka butuh perhatianku. Aku bukan sedang mengabaikan kita. Tapi ini tentang bagaimana nilai-nilai hidup membuatku mengambil keputusan. 

Kepada yang kupuja diam-diam, hatiku berdegup kencang ketika melihatmu dari kejauhan, seperti ombak yang tak pernah benar-benar tenang setiap kali bulan menatapnya.

Lalu baru-baru ini pengumuman yang dari dulu kutakutkan tiba, ada namamu yang dinyatakan pindah ke kantor lain. Hatiku hancur. Air mata tentu saja sudah keluar sepanjang malam.  Malam yang terasa lebih panjang dari biasanya. Tapi, aku kembali mengingat bahwa ada yang hanya dititipkan sebentar, untuk mengajarkan tentang harap, tentang keberanian, dan tentang melepaskan.

Karena seperti yang pernah kau katakan kepada temanmu, dengan tenang dan penuh keyakinan: “Jodoh tak ke mana.”

Kepada yang kupuja diam-diam, kala kita berpapasan aku pasti hilang kata-kata tanpa kenapa, seolah waktu sengaja berhenti sebentar hanya untuk menguji seberapa kuat jantungku bertahan.

Pada akhirnya, aku hanya bisa berdoa kepada Dia yang Mencipta Langit dan Bumi, agar jika memang takdir mengizinkan, kita dipertemukan kembali. Bukan sebagai dua orang yang masih ragu, bukan dalam keadaan setengah siap, melainkan dengan versi diri yang lebih utuh, lebih matang, dan lebih berani.

Aku percaya, jika memang kita ditulis dalam satu garis yang sama, maka waktu hanya sedang menata pertemuan itu. Dan tugasku sekarang hanyalah memperbaiki diri. Sementara doa tetap kupanjatkan diam-diam.

Kepada yang kupuja diam-diam, ketika aku merindukanmu aku mengunjungi anjingmu, karena lewat anjingmu aku seperti menyentuh bayanganmu, hangatnya berbeda, tapi cukup untuk menenangkan. 

Kepada yang kupuja diam-diam, ketika aku merindukanmu aku mengunjungi anjingmu, karena lewat anjingmu aku bisa merasakan sisa-sisa hadirmu, cara ia menoleh, cara ia setia menunggu, seolah ia mewarisi hatimu.









Share:

0 comments

Halo silahkan tinggalkan komentarnya ya kak❤ Pastikan kakak menggunakan akun Gmail jika ingin meninggalkan komentar ya kak ❤