Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter

Psikiatri - apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata psikiater? Apakah stigmatis? Atau kamu sudah termasuk yang aware dengan dunia psikiatri. Sebagai seorang dokter, aku sangat berharap dunia yang semakin maju harus disertai dengan pikiran yang semakin terbuka dengan hal-hal baik. Tapi karena aku adalah salah satu manusia yang cukup berbaur dengan individu diluar duniaku, ini adalah hal-hal yang aku temui yang masih erat di pikiran mereka tentang psikiater. 

1. "KALAU KE PSIKIATER BERARTI GILA"

Ini adalah yang paling sering saya dengar sebagai dokter. Padahal di psikiater banyak sekali menangani hal beragam lainnya seperti: gangguan cemas, gangguan bipolar, insomnia, ADHD, trauma, depresi, penyalahgunaan NAPZA, dan lain sebagainya. Tapi kenapa selalu erat kaitannya dengan stigma gila. Yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa pasien psikiater berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan profesional, akademisi, tenaga kesehatan, hingga pekerja kantoran. Mereka datang bukan karena "gila", melainkan karena sedang menghadapi masalah kesehatan mental yang memerlukan penanganan yang tepat. Sama seperti ke dokter jantung tidak berarti langsung kena serangan jantung, ke psikiater juga tidak otomatis berarti "gila".

2. "Orang yang berobat ke psikiater adalah orang yang lemah"

Menyedihkannya bahwa aku mendengar hal ini dari keluarga terdekatku sendiri. Disaat aku pernah mengalami depresi berat, aku tidak memiliki akses untuk menjangkau bala bantuan. Karena keluargaku sendiri masih sangat awam terhadap dunia psikiatri. Aku bersyukur akhirnya aku pelan-pelan bisa keluar dari jurang mengerikan itu. Tapi bagaimana kalau ada orang yang tidak berhasil keluar, dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri?


Cerita yang tidak pernah saya lupakan di Poli Psikiatri tempat saya magang. Ada seorang anak perempuan, umur kuliahan. Dia berjuang setelah bertahun-tahun self harm sendirian. Di pergelangan tangannya sudah banyak bekas-bekas baret. Saya sedih sekali melihatnya. Dia adalah anak dari pernikahan pertama ibunya, dan dengan suami baru nya saat ini dia memiliki dua orang adik yang masih kecil. Dia disuruh mengemban tanggung jawab untuk mengurusi adik-adiknya seharian. Dia memiliki tekad yang kuat. Dia ingin kuliah normal seperti hak nya seharusnya. Tapi ibu nya sendiri mencibir keinginannya dengan menganggap tidak perlu sesuatu yang namanya kuliah. Orang tuanya sering mengatur hidupnya. Suaranya sering dibungkam. Banyak hak nya yang dirampas orang dewasa. Dia berani diam-diam menggunakan BPJS untuk pergi ke Poli Psikiatri, mencari bantuan. 

Dari situ aku belajar bahwa orang yang berani psikiater adalah orang yang sesungguhnya hebat dan kuat. Banyak pasien yang datang justru sudah berjuang sendirian selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mencari bantuan profesional. Apakah mereka lemah? Tentu saja tidak. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bertahan dari hari-hari mengerikan. Mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja, dan keberanian yang lebih besar untuk meminta bantuan.

3. "Masalah mental cukup diselesaikan dengan ibadah atau berpikir positif"

Ini cukup sensitif tetapi sering ditemui. Ibadah, doa, dan dukungan spiritual memang dapat membantu banyak orang. Namun gangguan mental tertentu juga melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial sehingga kadang membutuhkan terapi psikologis, obat, atau kombinasi keduanya. Pada beberapa kondisi, seperti depresi berat, gangguan bipolar, atau skizofrenia, terdapat perubahan biologis dan neurokimia di otak yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Itu hanya bisa dibikin kembali normal dengan obat-obatan. Karena itu, seseorang yang dengan gangguan mental memerlukan bantuan profesional berupa psikoterapi, obat-obatan, atau kombinasi keduanya. 
Mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kurang iman. Karena kita bergantung pada Tuhan maka berobatlah karena Tuhan sedang bekerja melalui orang-orang yang memiliki ilmu untuk menolongmu.

4. "Obat dari psikiater pasti bikin ketagihan"

Ini hampir selalu ditanyakan pasien. Padahal sebagian besar obat psikiatri bukan obat yang menyebabkan kecanduan. Obat-obatan tersebut dirancang untuk membantu menyeimbangkan fungsi dan zat kimia di otak yang berperan dalam munculnya gejala gangguan mental, sehingga pasien dapat kembali berfungsi dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Yang sering disalahpahami adalah adanya gejala putus obat bila dihentikan mendadak pada beberapa jenis obat. Sebagian orang mengalami keluhan ketika menghentikan obat secara mendadak, seperti pusing, mual, sulit tidur, atau rasa tidak nyaman lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai discontinuation syndrome atau gejala penghentian obat, yang berbeda dengan kecanduan. Oleh karena itu, penghentian atau penurunan dosis obat psikiatri sebaiknya dilakukan secara bertahap dan di bawah pengawasan dokter. 

Bila digunakan sesuai indikasi dan anjuran tenaga profesional, obat psikiatri merupakan salah satu terapi yang aman, efektif, dan telah terbukti membantu jutaan orang di seluruh dunia dalam proses pemulihan kesehatan mental.


5. "Psikiater cuma mendengarkan curhat"




Ini juga lucu. 
Banyak orang mengira:
"Ngapain bayar mahal kalau cuma curhat?"
Padahal wawancara psikiatri adalah proses medis yang sistematis:
  • Menegakkan diagnosis
  • Menilai risiko bunuh diri
  • Menilai fungsi sosial
  • Menentukan terapi
  • Memantau respons pengobatan
Curhat hanyalah sebagian kecil dari proses tersebut.
Mungkin psikiater tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan hidupmu. Mereka tidak bisa menghapus masa lalu, memperbaiki hubungan yang rusak, atau mengubah keadaan yang sedang kamu hadapi. Namun mereka bisa membantu memahami apa yang sedang terjadi pada dirimu, membantu meredakan gejala yang mengganggu, serta mendampingimu menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi dan menjalani hidup.


"Kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara utuh. Semakin kita memahami dunia psikiatri, semakin berkurang stigma yang membuat banyak orang takut mencari pertolongan. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan ketika sedang terluka.. baik luka yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam jiwa."

Referensi

  1. American Psychiatric Association. What Is Psychiatry? Available at: American Psychiatric Association
  2. National Institute of Mental Health (NIMH). Mental Illness and Mental Health Information. Available at: National Institute of Mental Health (NIMH)
  3. World Health Organization (WHO). Mental Health. Available at: World Health Organization (WHO) Mental Health
  4. American Psychiatric Association. Mental Health Medications. Available at: APA Mental Health Medications
  5. Royal College of Psychiatrists. Stopping Antidepressants. Available at: Royal College of Psychiatrists
  6. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 12th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021.
  7. Stahl SM. Stahl's Essential Psychopharmacology. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press; 2021.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa dan Informasi Kesehatan Jiwa. Available at: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia








Sumber gambar: google

Halo. Aku disini adalah netral. Aku tidak berada di kubu mana pun dalam perdebatan yang polarisatif ini. Hanya opini bebas yang kutuangkan dalam ruang blog. Kira-kira sejak awal bulan juli tahun ini, pimpinan negeri ini resmi mendeklarasikan bahwa LGBT ditetapkan sebagai ancaman nonmiliter. Sejak saat itu, entah mengapa, aku merasa semakin sering melihat berita tentang persekusi dan tindakan yang diklaim sebagai upaya "membasmi" LGBT di Indonesia.

Hal tersebut membuatku bertanya-tanya. Mengapa isu ini selalu memancing reaksi yang begitu kuat?

Jika ditarik ke awal, mengapa ada LGBT?

Dari berbagai literatur yang pernah kubaca, tampaknya belum ada satu jawaban tunggal yang dapat menjelaskan secara pasti mengapa seseorang memiliki orientasi seksual atau identitas gender tertentu. Ada yang mengaitkannya dengan faktor biologis, genetik, hormonal, psikologis, lingkungan, hingga kombinasi berbagai faktor tersebut. Sampai hari ini, diskusi ilmiah mengenai hal tersebut masih terus berkembang.

Namun, menurutku, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah "mengapa mereka ada?", melainkan "mengapa keberadaan mereka selalu menjadi perdebatan?"

Di Indonesia, persoalan LGBT tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan agama, budaya, norma sosial, hukum, politik, bahkan identitas nasional. Bagi sebagian masyarakat, LGBT dianggap bertentangan dengan nilai yang mereka yakini sejak kecil. Bagi sebagian yang lain, LGBT dipandang sebagai bagian dari keberagaman manusia yang seharusnya tetap mendapatkan perlindungan sebagai warga negara.

Dua sudut pandang tersebut sering kali bertemu bukan dalam ruang dialog, melainkan dalam ruang konflik.

Yang membuatku prihatin adalah ketika diskusi berubah menjadi persekusi. Ketika seseorang tidak lagi dinilai dari perilakunya, melainkan semata-mata dari label yang melekat padanya. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kekerasan jarang sekali menyelesaikan perbedaan pandangan. Kekerasan justru melahirkan ketakutan, kebencian, dan jurang yang semakin lebar.

Lingkungan ku

Aku adalah seorang wanita biasa. Tak ada yang menonjol, kecuali selera makan ku yang selalu banyak wkwkwk. Aku memiliki seorang teman kuliah yang merupakan bagian dari LGBT, tepatnya seorang gay. Kami sudah berteman selama bertahun-tahun, tetapi baru pada tahun kelima aku mengenalnya, ia bercerita bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis. Dari situlah aku mulai mendengar banyak cerita yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Salah satu hal yang paling membuatku tertawa adalah keyakinannya bahwa ia bisa membedakan mana laki-laki heteroseksual dan mana yang homoseksual hanya dari sekali tatap. Karena aku memang dari dulu suka nongkrong sama dia sampai larut malam, kami sering menghabiskan waktu di restoran cepat saji yang buka 24 jam. Di tempat-tempat seperti itu, "radarnya" sering bekerja. Ia bisa menunjuk seseorang yang baru masuk ruangan dan berkata dengan yakin, "Kayaknya dia gay." 


Teman keduaku kujumpai saat aku bekerja di pulau dewata. Setelah setahun berteman dia tiba-tiba confess bahwa dia adalah seorang gay. Dia adalah penderita kanker stadium akhir. Badannya kurus setelah sejak usia sekolah dia harus menerima takdir melawan kanker. Kekasihnya yang membuat dia kuat. Temanku yang ini bukan tipikal yang berganti pasangan walau dia Gay. Di tengah perjuangan melawan kanker stadium lanjut, cinta dari orang yang selalu mendampinginya tampak menjadi salah satu sumber kekuatan terbesarnya. Ketika aku jatuh sakit cukup berat, ia rela menyempatkan diri mencarikan dan membelikan obat untukku, padahal ia sendiri sedang terburu-buru berangkat kerja.

Teman ketiga yang kukenal adalah yang sampai saat ini menjadi teman kantorku. Setelah bertahun-tahun berteman dengan beberapa orang gay, aku merasa sudah mewarisi sedikit "radar" dari mereka. Tapi ternyata ke teman ku yang satu ini tidak mempan rupanya. AKU GAK NYANGKA TERNYATA DIA JUGA BELOK.

Jadi ceritanya, tahun lalu itu aku habis putus, aku lagi galau berattttt. Untung sahabatku ini lagi ga sibuk, kita pergi lah tuh kan ke bar wkwkwk. Seperti biasa, aku bukan penganut minuman pahit dan strong. Kita pesen cukup cocktail 1 pitcher. Di pertengahan sesi curhat, dia entah mengapa malah admit bahwa dia adalah seorang penyuka sesama jenis. Aku tertegun, muka ku tanpa ekspresi dan berusaha tetap tenang. Aku bahkan sempat berpikir, jangan-jangan aku salah dengar, atau mungkin efek alkohol mulai bekerja lebih cepat dari yang seharusnya...

Dan akhirnya dia bercerita panjang lebar malam itu. Sebuah pengakuan yang mungkin sudah lama ingin ia sampaikan. Dia tidak memiliki riwayat pelecehan seksual sebelumnya. Dan ia mengatakan bahwa perasaan suka sesama jenis sudah timbul lama sejak dia SMA. 

LGBT di Indonesia

Aku memahami bahwa Indonesia memiliki nilai budaya dan norma sosial yang kuat. Aku juga memahami bahwa banyak orang merasa perlu mempertahankan nilai-nilai tersebut. Namun pada saat yang sama, aku juga percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang perlu dihormati.

Menghormati seseorang tidak selalu berarti menyetujui seluruh pilihan hidupnya. Sebaliknya, ketidaksetujuan juga tidak harus diwujudkan dalam bentuk penghinaan, persekusi, atau penghilangan hak-hak dasarnya sebagai manusia.

Jujur, tidak semua cerita yang kutemui membuatku mengangguk. Salah satu dari yang kukenal yang sangat berbeda. Ia sering berganti pasangan dan tidak percaya bahwa cinta harus selalu berlabuh pada satu orang yang sama. Tak jarang ia membawa kenalan baru yang ditemuinya untuk menghabiskan malam bersama (one night stand). Secara pribadi, aku tidak sejalan dengan gaya hidup seperti itu, terlepas dari orientasi seksualnya. Dia cukup disiplin dalam menjaga kesehatannya. Ia rutin mengonsumsi PrEP sebagai pencegahan HIV dan secara berkala menjalani pemeriksaan infeksi menular seksual. Dari dirinya aku belajar bahwa orientasi seksual dan pilihan gaya hidup adalah dua hal yang berbeda. Sama seperti pada kelompok heteroseksual, ada yang memilih hubungan monogami, ada pula yang tidak.

Kita semua punya hak dan pendapatnya masing-masing. Tapi yang tidak tepat menurutku adalah ketika menggunakan kekerasan untuk memaksakan pendapatnya. Apakah harus menyiksa seseorang yang dianggap menyimpang. Menurutku semua keyakinan tidak ada yang membenarkan kekerasan. Dan semua keyakinan pun tidak akan ada yang membenarkan penyimpangan LGBT. Semua orang punya hak untuk hidup.

Sebagai dokter, aku sempat mencari bagaimana dunia psikiatri memandang LGBT. Dalam DSM modern, homoseksualitas tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan jiwa. Artinya, orientasi seksual pada sesama jenis tidak dipandang sebagai penyakit yang harus diobati. Namun di luar ranah medis, isu LGBT tetap menjadi topik yang kompleks karena bersinggungan dengan budaya, agama, hukum, dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.




Jakarta memang tidak pernah kehabisan tempat menarik untuk dijelajahi. Namun, di tengah menjamurnya kafe modern bergaya minimalis, ada satu tempat yang berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda. Koffie.Art.Kultur di kawasan Cikini menawarkan lebih dari sekadar secangkir kopi. Tempat ini mengajak pengunjung menikmati suasana bangunan bersejarah yang dipadukan dengan seni, budaya, dan nuansa kolonial yang hangat.

Tampak depan cafe Koffie.Art.Kultur

Berlokasi di Post Kantoor, sebuah bangunan bekas kantor pos era kolonial di Jalan Cikini Raya No. 1, Menteng, kafe ini mempertahankan banyak elemen arsitektur aslinya sehingga setiap sudut terasa memiliki cerita. Bangunan tersebut kini dihidupkan kembali sebagai ruang kuliner dan kreatif tanpa kehilangan karakter sejarahnya.

Kesan Pertama

Begitu melangkahkan kaki ke dalam, saya langsung merasa seperti sedang berpindah ke masa lalu. Langit-langit yang tinggi, jendela besar, furnitur kayu klasik, hingga dekorasi bergaya vintage menciptakan suasana yang elegan namun tetap nyaman.

koffie.art.kultur cikini jakarta

Yang paling saya sukai adalah bagaimana tempat ini tidak terasa dibuat-buat. Alih-alih sekadar menjadi "kafe estetik", Koffie.Art.Kultur benar-benar memanfaatkan bangunan bersejarah sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.

Bagi pecinta fotografi, hampir setiap sudut layak dijadikan latar foto. Cahaya alami yang masuk melalui jendela besar juga membuat hasil foto terlihat cantik tanpa banyak usaha.

Suasana yang Membuat Betah

Koffie.Art.Kultur bukan tipe kafe yang ramai dengan musik keras. Suasananya cenderung tenang sehingga cocok untuk bekerja, membaca buku, berdiskusi, atau sekadar menikmati sore sambil menyeruput kopi.


Beberapa sudut bahkan dilengkapi kartu pos, permainan klasik, dan dekorasi yang semakin memperkuat tema kantor pos tempo dulu. Tak heran jika banyak pengunjung saya lihat tampak sibuk mengabadikan setiap sudut kafe ini melalui foto maupun video. Hampir di setiap bagian ruangan terdapat detail dekorasi yang menarik perhatian, mulai dari pernak-pernik vintage, karya seni, hingga berbagai ornamen yang membuat mata terus menemukan hal baru. Rasanya, karakter visual kafe ini memang tidak habis untuk dijelajahi dalam sekali kunjungan.

Bagi pecinta fotografi maupun pemburu konten media sosial, tempat ini menawarkan banyak spot yang estetik tanpa terkesan dibuat-buat. Setiap sudut memiliki cerita dan keunikannya sendiri, sehingga pengalaman berkunjung tidak hanya soal menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menikmati ruang yang dirancang dengan penuh karakter.

"Orang pintar akan kalah sama orang bijak"

Salah satu sudut favorit saya di kafe ini adalah area meja yang dihias dengan tumpukan buku yang dipenuhi berbagai bacaan yang bisa dinikmati pengunjung. Di dekatnya terdapat sebuah buku memo tempat siapa saja bebas meninggalkan pesan, kutipan, atau sekadar menuliskan isi pikirannya. Suasananya terasa hangat dan personal, seolah setiap pengunjung meninggalkan sedikit cerita untuk mereka yang datang berikutnya.

Di halaman memo itu, saya menuliskan sebuah kalimat yang pernah saya dengar: “Orang pintar akan kalah sama orang bijak.” Entah mengapa, di tengah sebuah kekecewaan yang baru saja saya alami, kalimat tersebut terasa sangat pas. 

Menu

Pilihan menu cukup beragam, mulai dari aneka kopi, minuman non-kopi, makanan berat hingga camilan tradisional.

Kopi yang disajikan memiliki karakter khas dengan kualitas yang baik. Jika kamu bukan penikmat kopi, tersedia pula berbagai pilihan minuman lain yang tidak kalah menarik.


Harga memang sedikit berada di atas rata-rata kafe biasa, tetapi menurut saya masih sebanding dengan pengalaman, suasana, dan kualitas tempat yang ditawarkan. 



Pelayanan

Pelayanannya ramah dan sigap. Staf juga tidak keberatan menjelaskan menu maupun konsep tempat kepada pengunjung yang baru pertama kali datang. Jika kalian bingung dengan dekorasi yang terpajang, kalian bisa bertanya kepada salah satu pegawai, dia akan sigap menjadi Tour Guide hehehe. Terdapat beberapa kartu pos dan merchandise yang dijual. Dan kartu pos langsung dapat digunakan dikirim mengingat kantor pos cikini beroperasi persis disebelah cafe Koffie.Art.Kultur.

Hal kecil seperti ini membuat pengalaman berkunjung terasa lebih menyenangkan.

Kelebihan

  • Bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial yang autentik.

  • Interior vintage yang sangat estetik.

  • Cocok untuk foto, bekerja, maupun quality time.

  • Pilihan menu cukup lengkap.

  • Lokasi strategis di kawasan Cikini.


Kekurangan

  • Di salah satu sudut kafe, terdapat sebuah piano klasik yang langsung mencuri perhatian. Melihat tampilannya, saya membayangkan nilainya tidaklah murah. Sayangnya, keberadaan piano tersebut terasa kurang dimaksimalkan. Akan lebih menarik jika piano itu memang diposisikan sebagai instrumen yang dapat dimainkan oleh pengunjung yang memiliki kemampuan bermusik, sehingga sesekali dapat menghadirkan suasana layaknya lounge atau bar dengan pertunjukan musik yang spontan dan hangat.

    Saat berkunjung, suara musik dari pengeras suara justru terasa cukup dominan sehingga piano tersebut tampak enggan disentuh dan akhirnya lebih berfungsi sebagai elemen dekorasi. Padahal, dengan karakter visual dan nilai artistiknya, piano itu berpotensi menjadi pusat pengalaman yang membuat suasana kafe terasa lebih hidup dan berkesan.

  • Harga jauh lebih premium dibanding coffee shop biasa. Tapi karena keberadaannya di Menteng dan ambeience yang tidak main-main mungkin masih dapat dimengerti. 

Penilaian

Suasana: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

Interior: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

Makanan & Minuman: ⭐⭐⭐⭐☆ (4/5)

Pelayanan: ⭐⭐⭐⭐☆ (4,5/5)

Value for Money: ⭐⭐⭐⭐☆ (4/5)

Overall: 4,5/5

Kesimpulan

Jika kamu sedang mencari vintage cafe di Jakarta yang menawarkan pengalaman berbeda dari coffee shop pada umumnya, Koffie.Art.Kultur layak masuk dalam daftar kunjunganmu.


Pilihan meja di koffie.Art.Kultur Cikini ini juga cukup beragam, mulai dari meja kecil untuk pengunjung yang datang sendiri hingga meja berukuran besar yang nyaman digunakan untuk pertemuan kelompok. Kehadiran meja-meja besar ini membuat kafe terasa fleksibel, baik untuk rapat dadakan, diskusi kerja, maupun kumpul bersama keluarga atau teman dalam jumlah banyak. Dengan demikian, tempat ini tidak hanya cocok untuk menikmati kopi secara santai, tetapi juga dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan dan aktivitas pengunjung.

Tempat ini bukan hanya menyajikan kopi, tetapi juga menghadirkan suasana yang membuat pengunjung ingin memperlambat langkah sejenak, menikmati arsitektur bersejarah, dan merasakan bagaimana sebuah bangunan lama dapat hidup kembali dengan cara yang begitu indah.


Bagi saya, Koffie.Art.Kultur adalah salah satu destinasi yang membuktikan bahwa secangkir kopi akan terasa lebih berkesan ketika dinikmati di tempat yang memiliki cerita.




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • Review Koffie.Art.Kultur Jakarta: Menikmati Kopi di Bangunan Kantor Pos Bersejarah
    Jakarta memang tidak pernah kehabisan tempat menarik untuk dijelajahi. Namun, di tengah menjamurnya kafe modern bergaya minimali...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • 5 Mitos tentang Psikiater yang Masih Dipercaya Orang Indonesia
    Psikiatri - apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata psikiater? Apakah stigmatis? Atau kamu sudah termasuk yang aware dengan ...
  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Di Antara Keyakinan dan Kemanusiaan: Refleksi tentang LGBT di Indonesia
    Sumber gambar: google Halo. Aku disini adalah netral. Aku tidak berada di kubu mana pun dalam perdebatan yang polarisatif ini. Hanya opini b...

Categories

  • #dearjournal 16
  • #Kesehatan 9
  • #poem 12
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Journal 3
  • Lifestyle 5
  • Mental Health 2
  • Partnership 5
  • Psikiatri 2
  • Review 13
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Foto saya
Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Juli 2026 (3)
  • Maret 2026 (1)
  • Februari 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • SCARLETT BODYCARE, Bekal Pilihan Selama Menjadi Garda Terdepan - JOURNAL
    Halo sobat blogger! Akhirnyaaa seperti yang kalian tahu saya sudah menempuh istirahat dua minggu dahulu sebelum akhirnya diizinkan pulang da...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...
  • Tiga puluh dua
    -4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung- Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu...
  • Palung Mariana
    Aku gelap Aku pekat Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi Aku tidak terselami ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang s...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes