Dewi Arianna Manullang
  • Home
  • BLOG
    • #Dear Journal
    • Kesehatan
    • Poem
    • Foodie
  • Sinema&Drama
  • Partnership
  • REVIEW
  • Contact Me
    • Twitter




Jakarta memang tidak pernah kehabisan tempat menarik untuk dijelajahi. Namun, di tengah menjamurnya kafe modern bergaya minimalis, ada satu tempat yang berhasil menghadirkan pengalaman yang berbeda. Koffie.Art.Kultur di kawasan Cikini menawarkan lebih dari sekadar secangkir kopi. Tempat ini mengajak pengunjung menikmati suasana bangunan bersejarah yang dipadukan dengan seni, budaya, dan nuansa kolonial yang hangat.

Tampak depan cafe Koffie.Art.Kultur

Berlokasi di Post Kantoor, sebuah bangunan bekas kantor pos era kolonial di Jalan Cikini Raya No. 1, Menteng, kafe ini mempertahankan banyak elemen arsitektur aslinya sehingga setiap sudut terasa memiliki cerita. Bangunan tersebut kini dihidupkan kembali sebagai ruang kuliner dan kreatif tanpa kehilangan karakter sejarahnya.

Kesan Pertama

Begitu melangkahkan kaki ke dalam, saya langsung merasa seperti sedang berpindah ke masa lalu. Langit-langit yang tinggi, jendela besar, furnitur kayu klasik, hingga dekorasi bergaya vintage menciptakan suasana yang elegan namun tetap nyaman.

koffie.art.kultur cikini jakarta

Yang paling saya sukai adalah bagaimana tempat ini tidak terasa dibuat-buat. Alih-alih sekadar menjadi "kafe estetik", Koffie.Art.Kultur benar-benar memanfaatkan bangunan bersejarah sebagai bagian dari pengalaman pengunjung.

Bagi pecinta fotografi, hampir setiap sudut layak dijadikan latar foto. Cahaya alami yang masuk melalui jendela besar juga membuat hasil foto terlihat cantik tanpa banyak usaha.

Suasana yang Membuat Betah

Koffie.Art.Kultur bukan tipe kafe yang ramai dengan musik keras. Suasananya cenderung tenang sehingga cocok untuk bekerja, membaca buku, berdiskusi, atau sekadar menikmati sore sambil menyeruput kopi.


Beberapa sudut bahkan dilengkapi kartu pos, permainan klasik, dan dekorasi yang semakin memperkuat tema kantor pos tempo dulu. Tak heran jika banyak pengunjung saya lihat tampak sibuk mengabadikan setiap sudut kafe ini melalui foto maupun video. Hampir di setiap bagian ruangan terdapat detail dekorasi yang menarik perhatian, mulai dari pernak-pernik vintage, karya seni, hingga berbagai ornamen yang membuat mata terus menemukan hal baru. Rasanya, karakter visual kafe ini memang tidak habis untuk dijelajahi dalam sekali kunjungan.

Bagi pecinta fotografi maupun pemburu konten media sosial, tempat ini menawarkan banyak spot yang estetik tanpa terkesan dibuat-buat. Setiap sudut memiliki cerita dan keunikannya sendiri, sehingga pengalaman berkunjung tidak hanya soal menikmati makanan dan minuman, tetapi juga menikmati ruang yang dirancang dengan penuh karakter.

"Orang pintar akan kalah sama orang bijak"

Salah satu sudut favorit saya di kafe ini adalah area meja yang dihias dengan tumpukan buku yang dipenuhi berbagai bacaan yang bisa dinikmati pengunjung. Di dekatnya terdapat sebuah buku memo tempat siapa saja bebas meninggalkan pesan, kutipan, atau sekadar menuliskan isi pikirannya. Suasananya terasa hangat dan personal, seolah setiap pengunjung meninggalkan sedikit cerita untuk mereka yang datang berikutnya.

Di halaman memo itu, saya menuliskan sebuah kalimat yang pernah saya dengar: “Orang pintar akan kalah sama orang bijak.” Entah mengapa, di tengah sebuah kekecewaan yang baru saja saya alami, kalimat tersebut terasa sangat pas. 

Menu

Pilihan menu cukup beragam, mulai dari aneka kopi, minuman non-kopi, makanan berat hingga camilan tradisional.

Kopi yang disajikan memiliki karakter khas dengan kualitas yang baik. Jika kamu bukan penikmat kopi, tersedia pula berbagai pilihan minuman lain yang tidak kalah menarik.


Harga memang sedikit berada di atas rata-rata kafe biasa, tetapi menurut saya masih sebanding dengan pengalaman, suasana, dan kualitas tempat yang ditawarkan. 



Pelayanan

Pelayanannya ramah dan sigap. Staf juga tidak keberatan menjelaskan menu maupun konsep tempat kepada pengunjung yang baru pertama kali datang. Jika kalian bingung dengan dekorasi yang terpajang, kalian bisa bertanya kepada salah satu pegawai, dia akan sigap menjadi Tour Guide hehehe. Terdapat beberapa kartu pos dan merchandise yang dijual. Dan kartu pos langsung dapat digunakan dikirim mengingat kantor pos cikini beroperasi persis disebelah cafe Koffie.Art.Kultur.

Hal kecil seperti ini membuat pengalaman berkunjung terasa lebih menyenangkan.

Kelebihan

  • Bangunan bersejarah dengan arsitektur kolonial yang autentik.

  • Interior vintage yang sangat estetik.

  • Cocok untuk foto, bekerja, maupun quality time.

  • Pilihan menu cukup lengkap.

  • Lokasi strategis di kawasan Cikini.


Kekurangan

  • Di salah satu sudut kafe, terdapat sebuah piano klasik yang langsung mencuri perhatian. Melihat tampilannya, saya membayangkan nilainya tidaklah murah. Sayangnya, keberadaan piano tersebut terasa kurang dimaksimalkan. Akan lebih menarik jika piano itu memang diposisikan sebagai instrumen yang dapat dimainkan oleh pengunjung yang memiliki kemampuan bermusik, sehingga sesekali dapat menghadirkan suasana layaknya lounge atau bar dengan pertunjukan musik yang spontan dan hangat.

    Saat berkunjung, suara musik dari pengeras suara justru terasa cukup dominan sehingga piano tersebut tampak enggan disentuh dan akhirnya lebih berfungsi sebagai elemen dekorasi. Padahal, dengan karakter visual dan nilai artistiknya, piano itu berpotensi menjadi pusat pengalaman yang membuat suasana kafe terasa lebih hidup dan berkesan.

  • Harga jauh lebih premium dibanding coffee shop biasa. Tapi karena keberadaannya di Menteng dan ambeience yang tidak main-main mungkin masih dapat dimengerti. 

Penilaian

Suasana: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

Interior: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

Makanan & Minuman: ⭐⭐⭐⭐☆ (4/5)

Pelayanan: ⭐⭐⭐⭐☆ (4,5/5)

Value for Money: ⭐⭐⭐⭐☆ (4/5)

Overall: 4,5/5

Kesimpulan

Jika kamu sedang mencari vintage cafe di Jakarta yang menawarkan pengalaman berbeda dari coffee shop pada umumnya, Koffie.Art.Kultur layak masuk dalam daftar kunjunganmu.


Pilihan meja di koffie.Art.Kultur Cikini ini juga cukup beragam, mulai dari meja kecil untuk pengunjung yang datang sendiri hingga meja berukuran besar yang nyaman digunakan untuk pertemuan kelompok. Kehadiran meja-meja besar ini membuat kafe terasa fleksibel, baik untuk rapat dadakan, diskusi kerja, maupun kumpul bersama keluarga atau teman dalam jumlah banyak. Dengan demikian, tempat ini tidak hanya cocok untuk menikmati kopi secara santai, tetapi juga dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan dan aktivitas pengunjung.

Tempat ini bukan hanya menyajikan kopi, tetapi juga menghadirkan suasana yang membuat pengunjung ingin memperlambat langkah sejenak, menikmati arsitektur bersejarah, dan merasakan bagaimana sebuah bangunan lama dapat hidup kembali dengan cara yang begitu indah.


Bagi saya, Koffie.Art.Kultur adalah salah satu destinasi yang membuktikan bahwa secangkir kopi akan terasa lebih berkesan ketika dinikmati di tempat yang memiliki cerita.




Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Ada fajar yang terus mencari senja, ia menjelajah ruang-ruang asing tanpa garis batas. Ada rahasia dibalik tirai yang tertutup rapat, pada musim layang-layang ia terlipat rapi. Ada Aku, yang tersimpan rapi dalam bingkai bernama Blog. Agar kaki ini mampu kemanapun, untuk selalu bersamamu.
Hi, I'm Dewi Arianna Manullang. Just an ordinary woman who loves coffee, poem, writing, blogging, and journaling very much. I currently live in Jakarta. In this blog I talk about many things. Nothing specific will be posted here. I will post anythings that interest me. Things that suit my mood, letting them flow in written form. For any business inquiries or collaboration, etc you may contact ariannadewi@gmail.com ❤

Follow us

POPULAR POSTS

  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • Biskuit Kacang Julie's Peanut Butter Sandwich, Buka Puasa Semakin Praktis
    Sumber Gambar: www.julies.com.my Biskuit Kacang Julie's - Hola! Ketemu lagi di artikel kali ini yang masih seputar BPN Ramadan Challenge...
  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...

Categories

  • #dearjournal 15
  • #Kesehatan 7
  • #poem 12
  • BPNRamadhanChallenge2022 4
  • covid-19 5
  • donor darah 1
  • Foodie 8
  • Journal 2
  • Lifestyle 5
  • Partnership 5
  • Review 13
  • sajak 4
  • Sinema&Drama 3
  • syair 3
  • Vaksinasi booster 1
  • Viu 2
  • wisma atlet 2

Advertisement

Blogger Perempuan
BloggerHub Indonesia
Diberdayakan oleh Blogger.

Tiap kali kamu rindu, bertamulah ke dalam Blog ini. Disini ia bersembunyi, si perangkai sajak.

Dewi Arianna Manullang
DKI Jakarta, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Cari Blog Ini

Arsip Blog

  • Juli 2026 (1)
  • Maret 2026 (1)
  • Februari 2026 (1)
  • Januari 2026 (1)
  • Maret 2025 (1)
  • Januari 2025 (2)
  • Agustus 2024 (1)
  • Juni 2024 (1)
  • Januari 2024 (1)
  • Mei 2023 (1)
  • Maret 2023 (2)
  • Januari 2023 (2)
  • November 2022 (3)
  • September 2022 (2)
  • Agustus 2022 (1)
  • Juli 2022 (1)
  • Juni 2022 (1)
  • Mei 2022 (1)
  • April 2022 (5)
  • Maret 2022 (8)
  • Februari 2022 (7)
  • Januari 2022 (1)
  • Beranda

FOLLOW US @ INSTAGRAM

About Me

Total Tayangan Halaman

Popular Posts

  • [REVIEW] Lucky Sundae Strawberry by MIXUE - Es Krim Lokal yang Must Try Banget!
    Jakartaa uda mulai musim panas nih. Saatnya mata ini mulai melihat-lihat mana yang bisa mendinginkan tubuh. Bikin adem, seger di mu...
  • Es Krim MIXUE Boba Sundae dan Oreo Sundae, [REVIEW] Edisi Duo Manis
    Es Krim Mixue Review - Haii sobat blogger. Selamat malamm. Suasana hati aku lagi ringan banget nih pas nulis ini. Kenapa lagi dong kalo...
  • RUJAK BUAH NONIK [FOOD REVEW], Cemilan Pilihan di Masa Pandemi
    Rujak Buah Nonik Review - Pandemi yang belum lekang, memang paling pas jika menu cemilan kita pun turut disesuaikan. Dari yang tadinya junk...
  • Rangkaian Penghalau Jerawat dari SCARLETT; Tetap Kinclong Dengan APD
    Penghalau Jerawat SCARLETT - Waktu berlari seperti jarak pendek, cepat namun tak tergesa. Tahun 2022, macan air...
  • 33 Years Old Me: New Age and New Resolution
    Januari. Tulisan ini didedikasikan untuk Januari. Bulan spesial. Bulan nya Saya. Mungkin tak cukup spesial bagi semua orang. Tapi hal itu be...
  • Donor Darah; Lebih dari Sekedar Project Kemanusiaan - MY STORY
    Hari itu semua kegiatan berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari biasanya. Antrian swab antigen yang kian menumpuk, menjawab kons...
  • Untuk Cinta yang mungkin sudah
      27 Oktober 2023, pada musim panas dan terik di Jakarta Utara, hari terakhir dari rangkaian pelaksanaan Akreditasi Klinik yang ...
  • Tiga puluh dua
    -4 Januari 2023, Jakarta, yang sedikit mendung- Rintik hujan jatuh turun memeluk bumi. Aroma laut teredam sementara, mungkin itu...
  • Palung Mariana
    Aku gelap Aku pekat Aku dalam. Titik terdalam di bawah bumi Aku tidak terselami ada bangkai yang mengendap di dasarku, tentang s...
  • 2025, tahun penuh pertumpahan darah (?)
     Waktu menunjukkan hampir pukul 5 dini hari. Subuh. Hening. Tapi tidak dirumahku, alunan musik dj berkumandang kencang. Beberapa hari ini sa...

Pengikut

Advertisement

Copyright © 2016 Dewi Arianna Manullang. Created by OddThemes