Malam sudah hampir selesai dan sebentar lagi sang fajar terbit. Mata masih belum mau memejam. Beberapa saat yang lalu datang telepon dari teman kantor,"Dok.. dokter... pak joko kantin kita meninggal. Nanti tolong editin laporan nya boleh ya dok kalo ada yang salah". Aku memekik kaget. Orang yang selama ini menyambutku saat kaki menapaki kantin, yang selalu bilang "dok.. mau makan apa hayo" Orang tersebut sudah tiada. Kembali ke pangkuan pencipta.
Hal yang membuatku berpikir lagi, bagaimana saat ini perasaan bu joko. Bagaimana rasanya ketika sedang melepas belahan jiwanya untuk selamanya. Aku mencoba mengingat beberapa hari ke belakang.
Memang akhir-akhir ini Pak Joko terlihat kurang sehat. Wajahnya pucat. Namun aku tak banyak bertanya. Kukira itu hanya raut lelah yang berusaha bertahan di bulan puasa.
Malam ini sunyi terasa berbeda. Kantin itu besok mungkin akan libur sebentar, namun ia tetap ada. Meja-meja tetap tersusun. Aroma makanan mungkin tetap sama. Tapi satu suara hangat tak lagi menyambutku.
Saya berpikir kapan giliran saya dipanggil Yang Maha Pencipta Langit Bumi. Di luar sana katanya dunia sedang bersiap memasuki perang dunia ketiga. Saya hanya bisa bersyukur saya tak dilahirkan di negara timur tengah. Betapa kasihannya mereka. Langit mereka yang tak selalu biru, kadang kabut oleh sisa asap. Wilayah mereka setiap harinya dihantui suara sirene dan dentuman. Betapa egoisnya para penguasa.
Besok, Dia, Yang kupuja diam-diam, akan menjalani prosesi sertijab di kantor. Sebuah peralihan. Sebuah bab baru. Dan mungkin, itu juga pertanda bagiku untuk berubah.
Aku ingin berhenti berharap pada hal-hal yang tak lagi menjadi bagianku.
Belajar mengikhlaskan, bukan karena tak peduli
tetapi karena memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan ditakdirkan untuk kita miliki.
Aku ingin mengubah cara mencinta.
Bukan lagi dengan menggenggam,
melainkan dengan mendoakan.
Malam ini aku juga jujur pada diri sendiri.
Aku sering semena-mena pada hidup.
mengikuti keinginan sesaat, membiarkan ego memimpin, merasa waktu selalu panjang dan kesempatan selalu ada.
Padahal tidak.
Kehilangan Pak Joko mengingatkanku bahwa hidup ini tipis sekali batasnya.
Dan prosesi besok mengingatkanku bahwa tidak semua yang hadir akan tinggal.
Maka jika aku harus berubah, biarlah perubahan itu sederhana:
lebih sadar,
lebih lembut,
lebih berbelas kasih.
Bukan hanya pada orang lain,
tapi juga pada diriku sendiri.
