5 Mitos tentang Psikiater yang Masih Dipercaya Orang Indonesia
1. "KALAU KE PSIKIATER BERARTI GILA"
2. "Orang yang berobat ke psikiater adalah orang yang lemah"
Dari situ aku belajar bahwa orang yang berani psikiater adalah orang yang sesungguhnya hebat dan kuat. Banyak pasien yang datang justru sudah berjuang sendirian selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mencari bantuan profesional. Apakah mereka lemah? Tentu saja tidak. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bertahan dari hari-hari mengerikan. Mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja, dan keberanian yang lebih besar untuk meminta bantuan.
3. "Masalah mental cukup diselesaikan dengan ibadah atau berpikir positif"
Mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kurang iman. Karena kita bergantung pada Tuhan maka berobatlah karena Tuhan sedang bekerja melalui orang-orang yang memiliki ilmu untuk menolongmu.
4. "Obat dari psikiater pasti bikin ketagihan"
Ini hampir selalu ditanyakan pasien. Padahal sebagian besar obat psikiatri bukan obat yang menyebabkan kecanduan. Obat-obatan tersebut dirancang untuk membantu menyeimbangkan fungsi dan zat kimia di otak yang berperan dalam munculnya gejala gangguan mental, sehingga pasien dapat kembali berfungsi dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.Yang sering disalahpahami adalah adanya gejala putus obat bila dihentikan mendadak pada beberapa jenis obat. Sebagian orang mengalami keluhan ketika menghentikan obat secara mendadak, seperti pusing, mual, sulit tidur, atau rasa tidak nyaman lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai discontinuation syndrome atau gejala penghentian obat, yang berbeda dengan kecanduan. Oleh karena itu, penghentian atau penurunan dosis obat psikiatri sebaiknya dilakukan secara bertahap dan di bawah pengawasan dokter.
Bila digunakan sesuai indikasi dan anjuran tenaga profesional, obat psikiatri merupakan salah satu terapi yang aman, efektif, dan telah terbukti membantu jutaan orang di seluruh dunia dalam proses pemulihan kesehatan mental.
5. "Psikiater cuma mendengarkan curhat"
"Ngapain bayar mahal kalau cuma curhat?"
Padahal wawancara psikiatri adalah proses medis yang sistematis:
- Menegakkan diagnosis
- Menilai risiko bunuh diri
- Menilai fungsi sosial
- Menentukan terapi
- Memantau respons pengobatan
Mungkin psikiater tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan hidupmu. Mereka tidak bisa menghapus masa lalu, memperbaiki hubungan yang rusak, atau mengubah keadaan yang sedang kamu hadapi. Namun mereka bisa membantu memahami apa yang sedang terjadi pada dirimu, membantu meredakan gejala yang mengganggu, serta mendampingimu menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi dan menjalani hidup.
"Kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara utuh. Semakin kita memahami dunia psikiatri, semakin berkurang stigma yang membuat banyak orang takut mencari pertolongan. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan ketika sedang terluka.. baik luka yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam jiwa."
Referensi
- American Psychiatric Association. What Is Psychiatry? Available at: American Psychiatric Association
- National Institute of Mental Health (NIMH). Mental Illness and Mental Health Information. Available at: National Institute of Mental Health (NIMH)
- World Health Organization (WHO). Mental Health. Available at: World Health Organization (WHO) Mental Health
- American Psychiatric Association. Mental Health Medications. Available at: APA Mental Health Medications
- Royal College of Psychiatrists. Stopping Antidepressants. Available at: Royal College of Psychiatrists
- Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 12th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021.
- Stahl SM. Stahl's Essential Psychopharmacology. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press; 2021.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa dan Informasi Kesehatan Jiwa. Available at: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia







16 comments
Ah, Psikiater dan segala stigmanya. Orang-orang pikir cuma fisik yang membutuhkan penanganan. Padahal kita sering membicarakan kesehatan fisik dan mental. Nah, ketika mental yang lelah apakah tidak butuh ditangani?
BalasHapusPergi ke Psikiater atau tidak pergi adalah keputusan masing-masing, tapi menghakimi orang-orang atas keputusan yang mereka ambil adalah tindakan yang salah.
Terimakasih sharingnya kak.. Semoga dg semakin banyak sharing ttg hal ini maka stigma di masyarakat akan makin hilang dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin menguat..
BalasHapusKayaknya kalau di kampung2, mitos yang paling sering didengar itu adalah nomor 3. Atau mungkin mayoritas orang tua (gen X) di Indonesia sering bilang begitu. Kalau stress, banyakin ibadah. Mereka nggak tau aja kalau Rumah sakit khusus untuk merawat gangguan kejiwaan (psikiatri) pertama di dunia didirikan di Baghdad, saat masa khalifah (kekuasaan islam). Itu artinya orang dengan gangguan mental harus ada treatment khusus, bukan sesimple disuruh ibadah, tapi datang ke ahlinya.
BalasHapusSetuju banget. Stigma bahwa ke psikiater berarti “gila” memang masih cukup kuat di masyarakat. Padahal kesehatan mental sama luasnya dengan kesehatan fisik, dan siapa pun bisa mengalami masalah yang membutuhkan bantuan profesional. Analogi dengan dokter jantung juga cukup mengena—datang ke dokter bukan berarti penyakitnya sudah parah, tetapi justru karena kita ingin mendapatkan penanganan yang tepat. Semoga semakin banyak orang yang berani mencari bantuan tanpa merasa malu atau takut diberi label.
BalasHapusSaya sendiri belum banyak memahami dunia psikiatri, jadi justru mendapat wawasan baru dari tulisan ini. Menarik untuk melihat bagaimana mitos-mitos tersebut dibahas dari sudut pandang seorang dokter. Semoga semakin banyak orang yang terbuka dan tidak lagi ragu mencari bantuan profesional ketika membutuhkannya.
BalasHapusNah, iyaa... Kadang orang-orang masih saja kalau ke pskiater orang-orang yang bermasalah dengan jiwa atau gila dan bagi beberapa keluarga itu aib dan malu banget kalau sampai orang lain tau ada anggita keluarganya yang pskiater.
BalasHapuskebanyakan orang menghindari mendatangi psikiater karena takut dianggap gila. Padahal membicarakan masalah kesehatan mental itu tidak kalah penting dari penyakit lainnya
BalasHapusBene juga. Di kampung saya, kalau ngomongin psikolog atau psikiater itu dianggapnya stress alias ada gangguan jiwa
BalasHapusSungguh pemahaman yang keliru ya...
Mitos nomor 3 soal "cukup diselesaikan dengan ibadah" itu memang paling sering saya dengar juga di lingkungan sekitar, padahal ibadah dan bantuan profesional itu bisa berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.
BalasHapusPenjelasan soal discontinuation syndrome yang beda dari kecanduan juga informatif banget, karena banyak orang takut duluan sebelum benar-benar paham cara kerja obatnya. Makasih sudah mau berbagi ilmu sekaligus melawan stigma dari sisi yang jarang dijelaskan orang awam
Masih banyak orang yang kalau mendengar kata psikiater langsung menghubungkannya dengan kondisi yang sangat berat atau bahkan menganggap seseorang "gila". Padahal anggapan seperti itu justru bisa membuat orang takut mencari bantuan ketika memang membutuhkannya. Menurutku membahas mitos seperti ini penting supaya masyarakat lebih terbuka dan nggak buru-buru memberi label kepada orang yang sedang berusaha memahami kondisi dirinya sendiri
BalasHapusDi tengah perkwmbangan zaman dan media sosial stigma terhadap psikiater sudah berubah. Apalagi dengan banyaknya psikiater yg aktif di emdia sosial seperti dr. Andreas, dr. Jimie atau dr. Lahargo Kembaren...orang jadi makin trrcerahkan bahwa psikiater itu bukan hanya untuk orang gila atau stress. Karena mental health juga harus dijaga sama halnya dengan kesehatan fisik.
BalasHapusSekarang memang beda dengan dulu ya. Zaman belum ada teknologi digital, kesehatan mental lebih terjaga dan mampu dikontrol. Sekarang? Duhhh.. gak bisa lagi cuma bilang, "Kendalikan pikiran dan perasaanmu, pliss." Tekanan dari berbagai sisi meningkat. Adakalanya kita butuh curhat ke ahlinya, salah satunya psikiater.
BalasHapusMenurut aku bagian pertama itu yg jadi stigma kalau k psikiater orang gila karena memang sebagian orang anggapnya gitu
BalasHapusSetuju pisan, periksa ke psikiater bukan berarti langsung dicap 'gila' kayak yang sering ditakutin orang-orang di luar sana. Pembahasannya relate banget dan membuka mata buat lebih peduli sama pentingnya mental health tanpa harus ngerasa tabu.
BalasHapusmemang selama ini masyarakat kita itu selalu berkonotasi negatif ya kalau seseorang itu sudah menemui psikiater karena identik dengan orang yang jiwanya terganggu. Untungnya sekarang sudah mulai banyak sih sosialisasi tentang pentingnya menemui psikiater di saat kita mulai merasa jiwa sudah lelah atau berlebihan dan bahkan banyak juga yang terbuka dengan proses pengobatan yang sedang dijalaninya
BalasHapusKhusus nomer 3 dan 5 sih memang perlu literasi lebih ya, karena ketika sudah ke psikiater, bukan lagi soal stress yang tinggi tapi akar kejiwaannya sudah menular ke biologis sehingga membutuhkan intervensi obat dan ahlinya, bukan mental semata-mata.
BalasHapusHalo silahkan tinggalkan komentarnya ya kak❤ Pastikan kakak menggunakan akun Gmail jika ingin meninggalkan komentar ya kak ❤