5 Mitos tentang Psikiater yang Masih Dipercaya Orang Indonesia


Psikiatri - apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata psikiater? Apakah stigmatis? Atau kamu sudah termasuk yang aware dengan dunia psikiatri. Sebagai seorang dokter, aku sangat berharap dunia yang semakin maju harus disertai dengan pikiran yang semakin terbuka dengan hal-hal baik. Tapi karena aku adalah salah satu manusia yang cukup berbaur dengan individu diluar duniaku, ini adalah hal-hal yang aku temui yang masih erat di pikiran mereka tentang psikiater. 

1. "KALAU KE PSIKIATER BERARTI GILA"

Ini adalah yang paling sering saya dengar sebagai dokter. Padahal di psikiater banyak sekali menangani hal beragam lainnya seperti: gangguan cemas, gangguan bipolar, insomnia, ADHD, trauma, depresi, penyalahgunaan NAPZA, dan lain sebagainya. Tapi kenapa selalu erat kaitannya dengan stigma gila. Yang mungkin tidak banyak diketahui adalah bahwa pasien psikiater berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan profesional, akademisi, tenaga kesehatan, hingga pekerja kantoran. Mereka datang bukan karena "gila", melainkan karena sedang menghadapi masalah kesehatan mental yang memerlukan penanganan yang tepat. Sama seperti ke dokter jantung tidak berarti langsung kena serangan jantung, ke psikiater juga tidak otomatis berarti "gila".

2. "Orang yang berobat ke psikiater adalah orang yang lemah"

Menyedihkannya bahwa aku mendengar hal ini dari keluarga terdekatku sendiri. Disaat aku pernah mengalami depresi berat, aku tidak memiliki akses untuk menjangkau bala bantuan. Karena keluargaku sendiri masih sangat awam terhadap dunia psikiatri. Aku bersyukur akhirnya aku pelan-pelan bisa keluar dari jurang mengerikan itu. Tapi bagaimana kalau ada orang yang tidak berhasil keluar, dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri?


Cerita yang tidak pernah saya lupakan di Poli Psikiatri tempat saya magang. Ada seorang anak perempuan, umur kuliahan. Dia berjuang setelah bertahun-tahun self harm sendirian. Di pergelangan tangannya sudah banyak bekas-bekas baret. Saya sedih sekali melihatnya. Dia adalah anak dari pernikahan pertama ibunya, dan dengan suami baru nya saat ini dia memiliki dua orang adik yang masih kecil. Dia disuruh mengemban tanggung jawab untuk mengurusi adik-adiknya seharian. Dia memiliki tekad yang kuat. Dia ingin kuliah normal seperti hak nya seharusnya. Tapi ibu nya sendiri mencibir keinginannya dengan menganggap tidak perlu sesuatu yang namanya kuliah. Orang tuanya sering mengatur hidupnya. Suaranya sering dibungkam. Banyak hak nya yang dirampas orang dewasa. Dia berani diam-diam menggunakan BPJS untuk pergi ke Poli Psikiatri, mencari bantuan. 

Dari situ aku belajar bahwa orang yang berani psikiater adalah orang yang sesungguhnya hebat dan kuat. Banyak pasien yang datang justru sudah berjuang sendirian selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mencari bantuan profesional. Apakah mereka lemah? Tentu saja tidak. Mereka adalah orang-orang yang berhasil bertahan dari hari-hari mengerikan. Mencari pertolongan bukanlah tanda kelemahan, melainkan keberanian. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja, dan keberanian yang lebih besar untuk meminta bantuan.

3. "Masalah mental cukup diselesaikan dengan ibadah atau berpikir positif"

Ini cukup sensitif tetapi sering ditemui. Ibadah, doa, dan dukungan spiritual memang dapat membantu banyak orang. Namun gangguan mental tertentu juga melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosial sehingga kadang membutuhkan terapi psikologis, obat, atau kombinasi keduanya. Pada beberapa kondisi, seperti depresi berat, gangguan bipolar, atau skizofrenia, terdapat perubahan biologis dan neurokimia di otak yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku seseorang. Itu hanya bisa dibikin kembali normal dengan obat-obatan. Karena itu, seseorang yang dengan gangguan mental memerlukan bantuan profesional berupa psikoterapi, obat-obatan, atau kombinasi keduanya. 
Mencari pertolongan ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kurang iman. Karena kita bergantung pada Tuhan maka berobatlah karena Tuhan sedang bekerja melalui orang-orang yang memiliki ilmu untuk menolongmu.

4. "Obat dari psikiater pasti bikin ketagihan"

Ini hampir selalu ditanyakan pasien. Padahal sebagian besar obat psikiatri bukan obat yang menyebabkan kecanduan. Obat-obatan tersebut dirancang untuk membantu menyeimbangkan fungsi dan zat kimia di otak yang berperan dalam munculnya gejala gangguan mental, sehingga pasien dapat kembali berfungsi dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Yang sering disalahpahami adalah adanya gejala putus obat bila dihentikan mendadak pada beberapa jenis obat. Sebagian orang mengalami keluhan ketika menghentikan obat secara mendadak, seperti pusing, mual, sulit tidur, atau rasa tidak nyaman lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai discontinuation syndrome atau gejala penghentian obat, yang berbeda dengan kecanduan. Oleh karena itu, penghentian atau penurunan dosis obat psikiatri sebaiknya dilakukan secara bertahap dan di bawah pengawasan dokter. 

Bila digunakan sesuai indikasi dan anjuran tenaga profesional, obat psikiatri merupakan salah satu terapi yang aman, efektif, dan telah terbukti membantu jutaan orang di seluruh dunia dalam proses pemulihan kesehatan mental.


5. "Psikiater cuma mendengarkan curhat"




Ini juga lucu. 
Banyak orang mengira:
"Ngapain bayar mahal kalau cuma curhat?"
Padahal wawancara psikiatri adalah proses medis yang sistematis:
  • Menegakkan diagnosis
  • Menilai risiko bunuh diri
  • Menilai fungsi sosial
  • Menentukan terapi
  • Memantau respons pengobatan
Curhat hanyalah sebagian kecil dari proses tersebut.
Mungkin psikiater tidak dapat menyelesaikan seluruh permasalahan hidupmu. Mereka tidak bisa menghapus masa lalu, memperbaiki hubungan yang rusak, atau mengubah keadaan yang sedang kamu hadapi. Namun mereka bisa membantu memahami apa yang sedang terjadi pada dirimu, membantu meredakan gejala yang mengganggu, serta mendampingimu menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi dan menjalani hidup.


"Kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara utuh. Semakin kita memahami dunia psikiatri, semakin berkurang stigma yang membuat banyak orang takut mencari pertolongan. Tidak ada yang salah dengan meminta bantuan ketika sedang terluka.. baik luka yang terlihat maupun yang tersembunyi di dalam jiwa."

Referensi

  1. American Psychiatric Association. What Is Psychiatry? Available at: American Psychiatric Association
  2. National Institute of Mental Health (NIMH). Mental Illness and Mental Health Information. Available at: National Institute of Mental Health (NIMH)
  3. World Health Organization (WHO). Mental Health. Available at: World Health Organization (WHO) Mental Health
  4. American Psychiatric Association. Mental Health Medications. Available at: APA Mental Health Medications
  5. Royal College of Psychiatrists. Stopping Antidepressants. Available at: Royal College of Psychiatrists
  6. Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 12th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021.
  7. Stahl SM. Stahl's Essential Psychopharmacology. 5th ed. Cambridge: Cambridge University Press; 2021.
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa dan Informasi Kesehatan Jiwa. Available at: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia








Share:

2 comments

  1. Ah, Psikiater dan segala stigmanya. Orang-orang pikir cuma fisik yang membutuhkan penanganan. Padahal kita sering membicarakan kesehatan fisik dan mental. Nah, ketika mental yang lelah apakah tidak butuh ditangani?

    Pergi ke Psikiater atau tidak pergi adalah keputusan masing-masing, tapi menghakimi orang-orang atas keputusan yang mereka ambil adalah tindakan yang salah.

    BalasHapus
  2. Terimakasih sharingnya kak.. Semoga dg semakin banyak sharing ttg hal ini maka stigma di masyarakat akan makin hilang dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental semakin menguat..

    BalasHapus

Halo silahkan tinggalkan komentarnya ya kak❤ Pastikan kakak menggunakan akun Gmail jika ingin meninggalkan komentar ya kak ❤